Dr. Riswan Nasution (Kepala BPS Lampung): Orang Lampung Memang Baik Hati

BeritaTerkini.Info
0

Prof. Admi Syarif, PhD

Guru Besar Unila

Memasuki halaman belakang Nuwono Tasya, menuju rumah tua yang kami sebut “Beng Nyapenken Pikih”, para pengunjung akan mendapati sebuah papan kayu dengan tulisan besar: “Orang Lampung Memang Baik Hati.”

Di sampingnya tergambar seorang gadis Lampung yang cantik mengenakan busana adat yang anggun. Tulisan itu sengaja dipasang agar setiap orang yang datang dapat langsung merasakan pesan sederhana tentang karakter dasar ulun Lampung—ramah, terbuka, dan penuh kebaikan hati.

Beberapa waktu lalu, Nuwono Tasya kedatangan tamu spesial, yaitu Ahmad Riswan Nasution. Meski belum genap setahun bertugas di Lampung sebagai Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung, beliau sudah dikenal sebagai sosok yang sangat produktif. Dalam waktu kurang dari setahun, ia telah menulis empat buku yang berkaitan dengan Lampung dan Indonesia.

Saat berkeliling di halaman belakang dan melihat tulisan “Orang Lampung Memang Baik Hati”, beliau tampak tertegun sejenak. Tulisan itu memang sengaja saya buat sebagai pesan sederhana bagi siapa pun yang datang ke Lampung—bahwa keramahan dan kebaikan adalah bagian dari jati diri masyarakatnya.

“Hampir setahun saya di Lampung. Narasi ini sangat benar adanya,” ujar Bang Riswan.

“Saya mohon izin, narasi ini ingin saya buat juga dan saya pasang di ruang utama kantor saya.”

Permintaan itu tentu saya sambut dengan senang hati. Bagi saya, jika pesan sederhana itu dapat menyebar dan mengingatkan lebih banyak orang tentang kebaikan hati orang Lampung, maka tujuan kecil dari tulisan tersebut sudah tercapai.

Sore ini, melalui pesan WhatsApp, Yaser Wijaya mengirimkan sebuah foto. Dalam foto itu tampak tulisan “Orang Lampung Memang Baik Hati” telah terpasang di ruang kerja Bang Riswan, dihiasi lampu yang indah sehingga terlihat semakin berwibawa.

“Narasinya sudah terpasang, Kiai Admi,” tulis Yaser.

“Terima kasih sudah menginspirasi. Sampai ketemu saat bukber minggu depan ya,” imbuhnya.

Saya tersenyum membaca pesan itu. Kadang sebuah kalimat sederhana bisa berjalan jauh, melampaui tempat ia pertama kali ditulis.

Ngomong-ngomong tentang Bang Riswan, ia memang dikenal sebagai penulis yang sangat produktif. Belum genap setahun berada di Lampung, sudah empat buku berhasil ia tulis. Kebetulan saya juga pernah menjadi salah seorang yang membedah salah satu bukunya tahun lalu.

Buku terakhir yang ia tulis pada Januari 2026 berjudul Kemiskinan? Modal Sosial sebagai Kunci Pengurangan Kemiskinan Perdesaan Indonesia, yang ditulis bersama Achmad Tjachja. Buku setebal 155 halaman ini lahir sebagai respons atas kebutuhan pendekatan yang lebih humanistik dan kontekstual dalam upaya pengurangan kemiskinan di wilayah perdesaan.

Menurut Bang Riswan, modal sosial bukan sekadar konsep akademik, tetapi merupakan praktik dan pengalaman nyata yang telah lama hidup dalam masyarakat Indonesia. Sejak dahulu, komunitas di berbagai daerah telah mempraktikkan nilai-nilai seperti gotong royong, solidaritas, dan saling percaya—baik melalui program resmi, gerakan lokal, maupun inisiatif informal masyarakat.

Buku ini mencoba menjawab sejumlah pertanyaan penting:

Bagaimana modal sosial dapat dieksplorasi dalam berbagai bentuk dan konteks? Bagaimana ia dapat diukur dan diperkuat? Dan bagaimana kebijakan publik serta program pembangunan dapat selaras dengan kekuatan sosial yang sebenarnya sudah dimiliki masyarakat?

Lebih jauh lagi, buku ini mengajak pembaca membangun narasi alternatif tentang pembangunan desa. Rumah tangga di perdesaan tidak lagi dipandang sekadar sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai aktor utama dalam proses pengurangan kemiskinan.

Meskipun Indonesia telah mencatat berbagai kemajuan ekonomi dalam beberapa dekade terakhir, kemiskinan masih menjadi realitas sehari-hari bagi sebagian masyarakat, terutama mereka yang hidup di wilayah perdesaan. Dalam konteks inilah Bang Riswan melihat bahwa modal sosial—kepercayaan, jaringan sosial, dan solidaritas komunitas—dapat menjadi kekuatan yang selama ini kurang mendapat tempat dalam kebijakan pembangunan.

Saya kembali teringat tulisan sederhana di halaman belakang Nuwono Tasya:

“Orang Lampung Memang Baik Hati.”

Barangkali itulah salah satu bentuk modal sosial paling nyata—kebaikan hati, kepercayaan, dan keramahan yang hidup dalam masyarakat. Nilai-nilai yang tampak sederhana, namun sesungguhnya dapat menjadi fondasi kuat bagi pembangunan dan kesejahteraan bersama.

Di tanah Lampung, kebaikan hati memang bukan sekadar ungkapan. Ia hidup dalam kebiasaan sehari-hari: dalam cara orang menyambut tamu, dalam hidangan sederhana yang selalu dibagi bersama, dalam tangan yang sigap membantu tanpa banyak bertanya. Nilai itu diwariskan turun-temurun—dari orang tua kepada anak-anaknya, dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Maka ketika tulisan “Orang Lampung Memang Baik Hati” kini terpampang di ruang kerja Bang Riswan, rasanya seperti sebuah pesan kecil yang sedang melakukan perjalanan. Ia berangkat dari sebuah papan kayu di halaman belakang rumah tua di Nuwono Tasya, lalu menemukan tempat baru di ruang kerja seorang kepala statistik.


  • Lebih baru

    Dr. Riswan Nasution (Kepala BPS Lampung): Orang Lampung Memang Baik Hati

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)