beritaterkini-indonesia.com - harga berbagai produk plastik di pasaran dilaporkan mengalami kenaikan cukup tajam. Lonjakan ini dipicu terganggunya pasokan bahan baku impor akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Mengutip laporan dari detikFinance, Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia, Reynaldi Sarijowan, menyampaikan bahwa kenaikan harga plastik terjadi karena Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku impor. Ia menyebutkan bahwa kenaikan harga bahkan mencapai hingga 50 persen.
Reynaldi menjelaskan, tren kenaikan harga sudah mulai terlihat sejak memasuki bulan Ramadan, dan mencapai puncaknya dengan lonjakan signifikan. Sebagai contoh, harga plastik kresek yang sebelumnya sekitar Rp10.000 per pak kini naik menjadi Rp15.000. Sementara jenis plastik lainnya juga mengalami kenaikan dari Rp20.000 menjadi Rp25.000.
Ia menambahkan bahwa ketergantungan pada impor membuat Indonesia rentan terhadap dampak konflik di Timur Tengah. Akibatnya, gejolak global tersebut memberikan pengaruh serius terhadap harga di dalam negeri, terutama untuk komoditas plastik yang terus mengalami kenaikan.
Menurutnya, para pedagang pasar yang sangat bergantung pada plastik untuk membungkus barang dagangan mulai merasakan tekanan akibat kenaikan harga ini. Bahkan, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga barang dagangan di pasar.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, nilai impor plastik dan produk turunannya (HS 39) mencapai sekitar US$873,2 juta atau setara Rp14,78 triliun pada Februari 2026. Impor tersebut berasal dari berbagai negara.
China menjadi pemasok terbesar dengan nilai impor sekitar US$380,1 juta, disusul Thailand sebesar US$82,7 juta dan Korea Selatan sebesar US$66,7 juta. Indonesia juga mengimpor plastik dari Amerika Serikat senilai US$29,9 juta serta dari Arab Saudi sekitar US$14,9 juta. Selain itu, pasokan juga datang dari negara lain seperti Vietnam, Jepang, Singapura, Malaysia, dan Taiwan.