Penunjukan Hengki sebagai Kapolda Papua Barat Daya tercantum dalam Surat Telegram Kapolri yang diterbitkan pada 30 Agustus 2026. Dalam perubahan tersebut, Hengki menggantikan Brigjen Pol Yulius Audie Sonny Latuheru yang kemudian mendapatkan penugasan baru di lingkungan pendidikan dan pengembangan Polri.
Sebelum memperoleh jabatan barunya, Hengki menjalankan tugas sebagai Wakapolda Riau. Ia menduduki posisi tersebut sejak akhir 2025 dan masa tugasnya di wilayah Riau berlangsung sekitar delapan bulan sebelum kembali mendapat penugasan baru.
Nama Hengki Haryadi sudah cukup dikenal dalam lingkungan penegakan hukum, khususnya karena pengalamannya di bidang reserse. Sebelum menduduki sejumlah jabatan strategis, ia banyak bertugas dalam menangani kasus kriminal dan persoalan keamanan di wilayah hukum Polda Metro Jaya.
Salah satu rekam jejak yang membuat nama Hengki menjadi perhatian publik adalah keterlibatannya dalam penanganan kasus yang melibatkan Rosario de Marshall atau yang lebih dikenal dengan nama Hercules. Pengalaman tersebut terjadi ketika Hengki bertugas di wilayah Jakarta Barat.
Pada 2013, ketika menjabat sebagai Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Barat, Hengki memimpin penangkapan Hercules. Penangkapan tersebut berkaitan dengan dugaan kasus pemerasan dan kekerasan terhadap warga di kawasan Jakarta Barat.
Beberapa tahun kemudian, Hengki kembali berhadapan dengan Hercules. Saat itu Hengki telah menduduki posisi sebagai Kapolres Metro Jakarta Barat. Ia kembali menangkap Hercules bersama sejumlah orang yang berada dalam kelompoknya dalam perkara yang berkaitan dengan dugaan intimidasi dan tindakan yang menimbulkan keresahan masyarakat.
Pengalaman menangani kasus Hercules menjadi salah satu bagian yang menonjol dalam perjalanan karier Hengki. Rekam jejak tersebut turut membuatnya dikenal sebagai perwira yang memiliki pengalaman dalam menangani persoalan kriminalitas dan keamanan di wilayah perkotaan.
Selain menangani kasus yang berkaitan dengan Hercules, Hengki juga pernah menduduki sejumlah jabatan penting di lingkungan Polda Metro Jaya. Di antaranya adalah Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kapolres Metro Jakarta Barat, hingga Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.
Hengki merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1996. Sepanjang kariernya, ia memperoleh berbagai pengalaman di bidang penyidikan, reserse, serta penanganan keamanan yang menjadi bekal dalam menjalankan tugas di berbagai wilayah.
Setelah mendapatkan tugas di Riau, Hengki kini dipercaya memimpin Polda Papua Barat Daya. Jabatan tersebut memberikan tanggung jawab yang lebih besar karena seorang kapolda harus memastikan keamanan, ketertiban masyarakat, serta penegakan hukum berjalan di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.
Pergantian pimpinan tersebut juga menjadi bagian dari penyegaran organisasi Polri. Dalam mutasi terbaru, sejumlah perwira tinggi dan perwira menengah memperoleh penugasan baru sebagai bagian dari pembinaan karier serta kebutuhan organisasi.
Kadiv Humas Polri Irjen Pol Johnny Eddizon Isir menjelaskan bahwa rotasi dan mutasi merupakan bagian dari dinamika organisasi. Penempatan personel pada jabatan baru dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan organisasi, kompetensi, pengalaman, serta tantangan tugas yang akan dihadapi masing-masing pejabat.
Sementara itu, posisi Wakapolda Riau yang ditinggalkan Hengki akan ditempati Brigjen Pol Simson Zet Ringu. Sebelumnya, Simson menjabat sebagai Wakapolda Gorontalo dan kini mendapat amanah untuk menjalankan tugas di lingkungan Polda Riau.
Dengan pengalaman panjang di bidang reserse dan berbagai jabatan kewilayahan, Hengki Haryadi kini menghadapi tanggung jawab baru sebagai Kapolda Papua Barat Daya. Penugasan tersebut diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan tugas kepolisian, menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, serta meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di wilayah Papua Barat Daya.