Rencana Iran Perketat Selat Hormuz Bikin Harga Minyak Mendidih

Berita Terkini Indonesia
0

 

Bali - Rencana Iran untuk memperketat aturan pelayaran di Selat Hormuz kembali menjadi perhatian pasar energi global. Kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur penting bagi perdagangan energi dunia.

Ketidakpastian mengenai kondisi di kawasan tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak. Minyak mentah Brent sebagai salah satu acuan harga minyak internasional tercatat meningkat sekitar 3,8 persen dan ditutup pada level US$82,49 per barel. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 2,8 persen menjadi US$77,29 per barel.

Kenaikan tersebut terjadi setelah sebelumnya harga minyak sempat mengalami penurunan sekitar 8 persen dalam sepekan. Penurunan itu dipengaruhi harapan bahwa lalu lintas di Selat Hormuz dapat kembali terbuka dengan lebih bebas setelah adanya pembicaraan mengenai kemungkinan kesepakatan.

Namun, situasi kembali berubah setelah muncul informasi mengenai rencana Iran memperketat persyaratan bagi kapal yang ingin melewati Selat Hormuz. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan risiko gangguan terhadap pasokan energi global.

Iran dan Oman sendiri dilaporkan tengah membahas pengaturan mengenai jalur transit kapal di kawasan tersebut. Dalam rancangan yang dibicarakan, kapal yang memasuki kawasan akan melewati perairan Iran, sedangkan kapal yang keluar akan menggunakan jalur melalui perairan Oman.

Pemerintah Iran melalui kantor berita Fars sebelumnya menerbitkan rancangan awal mengenai aturan baru pelayaran di Selat Hormuz. Rancangan tersebut masih dalam proses pembahasan oleh komite di parlemen Iran sehingga belum menjadi kebijakan final.

Dalam rancangan tersebut terdapat sejumlah ketentuan yang jauh lebih ketat dibandingkan aturan sebelumnya. Salah satu poin yang paling mendapat perhatian adalah rencana Iran untuk melarang kapal-kapal Amerika Serikat dan Israel melintasi Selat Hormuz.

Selain itu, kapal dari negara lain yang dianggap telah merugikan Iran juga berpotensi tidak diperbolehkan melewati jalur tersebut sebelum memenuhi tuntutan kompensasi. Iran bahkan disebut menyiapkan sanksi bagi kapal yang melanggar ketentuan, dengan nilai denda yang dapat mencapai 20 persen dari nilai muatan kapal.

Situasi ini menjadi penting bagi pasar energi karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang digunakan dalam aktivitas perdagangan minyak dan komoditas energi. Setiap gangguan terhadap lalu lintas kapal di kawasan tersebut berpotensi menimbulkan kekhawatiran mengenai ketersediaan pasokan serta meningkatkan tekanan terhadap harga minyak.

Perkembangan hubungan Iran dan Amerika Serikat juga menjadi faktor yang memperbesar ketidakpastian. Meskipun terdapat pembicaraan mengenai kemungkinan kesepakatan untuk membuka akses pelayaran di Selat Hormuz, hubungan kedua negara masih rentan dan risiko munculnya kembali konflik tetap menjadi perhatian pasar.

Dengan kondisi tersebut, pasar energi global masih akan mencermati perkembangan kebijakan Iran dan pembicaraan dengan Oman. Jika pembatasan pelayaran benar-benar diterapkan dan mengganggu distribusi energi, harga minyak berpotensi kembali mengalami tekanan kenaikan. Sebaliknya, apabila tercapai kesepakatan yang menjamin kelancaran lalu lintas kapal, kekhawatiran pasar dapat berkurang.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)