Sekretaris Jenderal Kemenkes Kunta Wibawa Dasa Nugraha secara langsung melepas keberangkatan para relawan tersebut dari Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten, pada 26 Agustus 2026. Dalam kesempatan itu, ia memberikan sejumlah arahan kepada para tenaga kesehatan sebelum menjalankan tugas di wilayah bencana.
Kunta mengingatkan para relawan agar tidak mengabaikan kondisi kesehatan dan keselamatan diri selama menjalankan tugas kemanusiaan. Menurutnya, para petugas dikirim untuk memberikan pertolongan kepada korban bencana, sehingga mereka harus menjaga kondisi tubuh agar tidak justru menjadi korban berikutnya.
Ia menekankan bahwa rasa lelah tidak boleh dianggap sebagai ukuran pengabdian seorang relawan. Para tenaga kesehatan harus memahami batas kemampuan fisik masing-masing dan tetap memastikan kondisi tubuh dalam keadaan baik selama berada di lokasi bencana.
Kemenkes memberikan tiga arahan utama kepada para relawan yang akan bertugas. Pertama, mereka diminta berkonsentrasi dalam menemukan berbagai persoalan medis yang muncul di lapangan dan berupaya menyelesaikannya sesuai kebutuhan masyarakat terdampak.
Arahan kedua berkaitan dengan kerja sama antarpersonel. Seluruh tenaga kesehatan yang berada di lokasi bencana diminta bekerja sebagai satu tim tanpa membedakan latar belakang institusi. Koordinasi yang baik dinilai penting agar penanganan kesehatan dapat dilakukan secara efektif.
Arahan ketiga adalah menjaga keselamatan serta kondisi fisik selama bertugas. Relawan diharapkan tidak memaksakan diri ketika mengalami kelelahan atau kondisi kesehatan yang menurun karena pekerjaan di daerah bencana memiliki berbagai risiko.
Para relawan TCK tersebut akan menjalankan tugas selama 14 hari di enam wilayah yang mengalami dampak cukup parah akibat gempa. Daerah yang menjadi lokasi penugasan meliputi Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Berdasarkan data Pusat Krisis Kesehatan hingga 23 Agustus 2026, gempa yang terjadi pada 15 Agustus telah berdampak terhadap sekitar 1,9 juta penduduk di tujuh kabupaten dan kota. Bencana tersebut juga menyebabkan korban meninggal dunia, warga mengalami luka-luka, serta masyarakat harus mengungsi dari tempat tinggalnya.
Gempa tersebut juga memberikan dampak terhadap sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah terdampak. Kondisi tersebut membuat keberadaan tenaga kesehatan tambahan menjadi penting untuk memastikan masyarakat tetap memperoleh pelayanan medis selama masa tanggap darurat.
Dari ratusan relawan yang diberangkatkan, terdapat berbagai tenaga medis dengan latar belakang keahlian yang berbeda. Mereka terdiri atas dokter umum, perawat, bidan, tenaga farmasi, serta dokter spesialis yang memiliki keahlian di bidang penyakit dalam, anak, bedah, dan ortopedi.
Selain 206 relawan TCK, penanganan kesehatan di wilayah terdampak juga didukung oleh 78 dokter internsip yang sebelumnya telah berada di Pulau Flores. Kehadiran tenaga medis tambahan tersebut diharapkan dapat memperkuat sumber daya kesehatan yang sudah bekerja sejak awal bencana.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Agus Jamaludin mengatakan bahwa tenaga kesehatan tambahan diperlukan untuk membantu daerah yang mengalami tekanan akibat dampak gempa. Mereka diharapkan dapat membantu mempertahankan pelayanan kesehatan penting bagi masyarakat selama proses pemulihan berlangsung.
Penugasan para relawan juga diharapkan dapat meringankan beban tenaga kesehatan lokal yang telah bekerja sejak terjadinya bencana. Dengan tambahan personel, pelayanan medis dapat terus berjalan sekaligus memberikan waktu bagi tenaga kesehatan daerah untuk menjaga kondisi fisik mereka.
Melalui pengerahan relawan tersebut, Kemenkes berupaya memastikan kebutuhan kesehatan masyarakat terdampak gempa di NTT tetap terpenuhi. Namun, di tengah upaya memberikan pertolongan, pemerintah kembali menegaskan bahwa keselamatan dan kesehatan para relawan juga harus menjadi prioritas selama menjalankan misi kemanusiaan.