Kasus ISPA di Kalsel Meningkat di Tengah Karhutla

Berita Terkini Indonesia
0

 

Bali - Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan mencatat adanya peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah. Hingga periode minggu ke-28 sampai minggu ke-32 tahun 2026, jumlah kasus yang tercatat mencapai 36.196 kasus.


Data tersebut berasal dari Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) yang dihimpun Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan. Pemantauan dilakukan untuk melihat perkembangan penyakit yang berpotensi meningkat akibat kondisi lingkungan, termasuk dampak dari kabut asap karhutla.


Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan, Diauddin, mengatakan jumlah kasus ISPA menunjukkan kecenderungan meningkat dari minggu ke minggu. Data yang digunakan dalam pemantauan tersebut tercatat hingga 22 Agustus 2026.


Pada minggu ke-28, jumlah kasus ISPA yang dilaporkan mencapai 5.319 kasus. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 6.460 kasus pada minggu ke-29.


Peningkatan kembali terjadi pada minggu ke-30 dengan jumlah kasus mencapai 7.617. Selanjutnya, pada minggu ke-31, laporan kasus ISPA bertambah menjadi 8.342 kasus.


Memasuki minggu ke-32, kasus ISPA kembali mengalami peningkatan hingga mencapai 8.458 kasus. Jumlah tersebut menjadi angka tertinggi dibandingkan empat minggu sebelumnya dalam periode pemantauan tersebut.


Jika seluruh laporan selama minggu ke-28 hingga minggu ke-32 dijumlahkan, terdapat 36.196 kasus ISPA yang tercatat di Kalimantan Selatan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena peningkatan kasus berlangsung bersamaan dengan maraknya kebakaran hutan dan lahan.


Meskipun kasus terus bertambah, Dinas Kesehatan melihat laju peningkatan mulai mengalami perlambatan. Dari minggu ke-31 menuju minggu ke-32, kenaikannya tercatat sebanyak 116 kasus.


Kenaikan tersebut relatif lebih kecil dibandingkan pertambahan kasus pada minggu-minggu sebelumnya. Namun, perlambatan tersebut belum dianggap sebagai alasan untuk mengurangi kewaspadaan terhadap potensi penyebaran ISPA.


Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan tetap melakukan pemantauan dan surveilans secara berkelanjutan. Pengawasan tersebut dilakukan bersama dinas kesehatan di tingkat kabupaten dan kota untuk mengetahui perkembangan kondisi kesehatan masyarakat.


Situasi karhutla menjadi perhatian karena asap yang dihasilkan dari kebakaran dapat memperburuk kualitas udara. Paparan udara yang tercemar asap berpotensi menimbulkan gangguan pada sistem pernapasan, terutama bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak.


Kondisi kabut asap juga telah menimbulkan dampak terhadap aktivitas masyarakat di beberapa daerah Kalimantan Selatan. Di Banjarbaru, misalnya, kabut asap dilaporkan cukup tebal hingga mengganggu berbagai sektor, termasuk kesehatan dan aktivitas pendidikan.


Masyarakat di wilayah yang terdampak asap karhutla perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan kesehatan. Mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk serta menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar menjadi langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan asap.


Pemerintah daerah juga terus melakukan pemantauan terhadap kondisi udara dan perkembangan kasus penyakit pernapasan. Langkah tersebut diperlukan agar peningkatan kasus ISPA dapat segera ditangani dan masyarakat memperoleh informasi mengenai kondisi kesehatan serta kualitas lingkungan di wilayah mereka.


Dengan masih berlangsungnya karhutla di sejumlah wilayah, Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan mengingatkan pentingnya kewaspadaan masyarakat. Meskipun peningkatan kasus ISPA mulai melambat, pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan perkembangan penyakit dapat diketahui dan ditangani secara cepat.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)