Data tersebut diperoleh dari pemantauan sejumlah posko kesehatan yang didirikan di kawasan terdampak bencana. Petugas kesehatan terus memantau kondisi masyarakat untuk mengetahui jenis penyakit yang paling banyak muncul setelah gempa.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, Theresia Asmon, menyampaikan bahwa terdapat 15 jenis penyakit yang banyak ditangani oleh petugas kesehatan selama masa pascabencana. Pemantauan tersebut dilakukan untuk mengetahui kebutuhan kesehatan masyarakat secara lebih cepat dan tepat.
Dari berbagai penyakit yang ditemukan, Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA menjadi penyakit yang paling banyak dialami masyarakat. Tercatat sebanyak 727 kasus ISPA atau sekitar 23,1 persen dari keseluruhan kasus penyakit yang dilaporkan.
Tingginya kasus ISPA menjadi perhatian karena sebagian masyarakat terdampak masih berada di lokasi pengungsian. Kondisi lingkungan di tempat pengungsian dapat memengaruhi kesehatan masyarakat sehingga kebersihan dan kualitas lingkungan perlu mendapatkan perhatian.
Setelah ISPA, hipertensi menjadi penyakit dengan jumlah kasus terbanyak kedua. Posko kesehatan mencatat sebanyak 601 kasus hipertensi atau sekitar 19,1 persen dari seluruh kasus yang ditemukan selama periode pemantauan.
Selain ISPA dan hipertensi, sejumlah masyarakat juga mengalami myalgia atau nyeri otot. Penyakit tersebut tercatat sebanyak 275 kasus dan menjadi salah satu keluhan kesehatan yang cukup banyak ditangani oleh petugas medis di wilayah terdampak gempa.
Keluhan berupa nyeri punggung bagian bawah atau low back pain juga ditemukan pada masyarakat. Jumlah kasusnya mencapai 271 kasus. Selain itu, terdapat 189 kasus gangguan obstetri dan ginekologi yang turut tercatat dalam pelayanan kesehatan pascagempa.
Beberapa penyakit lainnya juga ditemukan selama proses pemantauan. Di antaranya adalah common cold sebanyak 187 kasus, gangguan neurologi dan psikiatri sebanyak 167 kasus, serta luka atau cedera sebanyak 153 kasus.
Petugas kesehatan juga menangani 140 kasus dispepsia dan 106 kasus penyakit kulit serta jaringan lunak. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat pascabencana cukup beragam dan tidak hanya berkaitan dengan cedera akibat gempa.
Selain itu, terdapat 96 kasus muskuloskeletal dan trauma yang tercatat selama periode tersebut. Posko kesehatan juga menerima laporan 76 kasus diare yang perlu mendapatkan perhatian, khususnya karena kondisi sanitasi di wilayah pengungsian dapat memengaruhi kesehatan masyarakat.
Penyakit lain yang tercatat meliputi diabetes melitus sebanyak 55 kasus, gastritis sebanyak 51 kasus, serta penyakit gigi dan mulut sebanyak 37 kasus. Seluruh data tersebut dihimpun untuk mengetahui pola penyakit yang berkembang setelah terjadinya bencana.
Dinas Kesehatan Manggarai Barat mengimbau masyarakat yang terdampak gempa, terutama warga yang masih tinggal di tempat pengungsian, untuk menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat juga diminta memastikan makanan dan air yang dikonsumsi berada dalam kondisi aman.
Masyarakat juga diingatkan agar tidak mengabaikan keluhan kesehatan yang muncul. Jika mengalami gejala penyakit, warga dianjurkan segera memeriksakan diri kepada petugas kesehatan agar mendapatkan penanganan yang sesuai.
Pemantauan pola penyakit akan terus dilakukan selama masa tanggap darurat. Data mengenai 3.151 kasus tersebut menjadi salah satu dasar bagi pemerintah daerah dalam menentukan kebutuhan pelayanan medis dan langkah penanganan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa di Manggarai Barat.