Aplikasi MouthEZ dirancang sebagai sarana skrining awal yang dapat digunakan masyarakat dengan lebih mudah. Kehadiran aplikasi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan dini terhadap gejala kanker mulut.
Tim pengembang MouthEZ terdiri dari Arifianti, Given Exaudi Girsang, Zalfa Anindya Laksana, David Mey Norton, Aura Tahta Imani, Muhammad Zaidan Fathirifansa, dan Nisriina Hilmi Rajiva. Mereka bekerja sama dengan membagi tugas sesuai keahlian masing-masing selama proses pengembangan aplikasi.
Dalam penggunaannya, MouthEZ memanfaatkan teknologi Convolutional Neural Network (CNN) yang dilengkapi dengan sistem auto-hyperparameter tuning. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu sistem mengenali lesi atau tanda yang berpotensi berkaitan dengan kanker mulut.
Cara penggunaan aplikasi dibuat cukup sederhana. Pengguna hanya perlu mengambil foto bagian mulut yang dicurigai mengalami kelainan melalui perangkat yang tersedia. Foto tersebut kemudian diproses oleh sistem untuk menghasilkan skrining awal.
Setelah gambar dianalisis, aplikasi akan memberikan hasil pemeriksaan awal kepada pengguna. Selain hasil skrining, MouthEZ juga memberikan rekomendasi mengenai langkah lanjutan yang dapat dilakukan oleh pengguna.
Teknologi tersebut dikembangkan dengan mempertimbangkan kemudahan akses masyarakat. Sistem ini diharapkan dapat menjadi alat bantu skrining yang cepat, tidak memerlukan tindakan invasif, serta memiliki biaya penggunaan yang lebih terjangkau.
Gagasan pengembangan MouthEZ berawal dari perhatian para mahasiswa terhadap masih banyaknya kasus kanker mulut yang terlambat diketahui. Kondisi tersebut menjadi salah satu persoalan yang mendorong mereka untuk mencari solusi melalui pemanfaatan teknologi.
Menurut tim pengembang, keterlambatan diagnosis dapat terjadi karena berbagai faktor. Beberapa di antaranya adalah keterbatasan akses skrining, kurangnya edukasi mengenai kanker mulut, serta belum optimalnya penerapan deteksi dini dalam sistem pelayanan kesehatan.
Dalam proses pembuatannya, para mahasiswa menggabungkan berbagai bidang keilmuan. Kerja sama lintas disiplin tersebut diperlukan agar pengembangan aplikasi dapat dilakukan secara menyeluruh, mulai dari aspek teknologi hingga kebutuhan dalam bidang kesehatan.
Pengembangan MouthEZ juga menghadapi berbagai tantangan. Tim mengatasinya melalui koordinasi secara rutin, pembagian pekerjaan, serta pengaturan waktu yang baik sehingga proses pengembangan dapat terus berjalan.
Ke depan, aplikasi tersebut masih akan dikembangkan agar dapat digunakan secara lebih luas. Salah satu rencana pengembangannya adalah memperbanyak dataset yang digunakan dalam sistem sehingga kemampuan deteksi aplikasi dapat semakin ditingkatkan.
Tim juga berencana melakukan uji coba MouthEZ bersama fasilitas kesehatan tingkat pertama. Selain itu, akan ditambahkan fitur yang dapat membantu mendeteksi tingkat keparahan kanker mulut sehingga informasi yang diberikan kepada pengguna menjadi lebih lengkap.
Saat ini MouthEZ sudah dapat digunakan melalui platform berbasis website. Tim pengembang juga menargetkan aplikasi tersebut dapat tersedia di Play Store dan App Store sehingga masyarakat dapat memperoleh akses yang lebih luas terhadap teknologi skrining tersebut.
Inovasi tersebut turut membawa prestasi bagi tim mahasiswa Unair. MouthEZ berhasil memperoleh Silver Medal serta penghargaan Stage Presentation Appreciation dalam ajang Bangkok International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEx) yang berlangsung di Thailand pada 5–9 Januari 2026. Kompetisi tersebut diikuti peserta dari 31 negara.