Semakin banyak layanan keuangan yang berpindah ke sistem digital membuat aktivitas masyarakat menjadi lebih praktis. Transaksi, pembayaran, hingga berbagai layanan finansial dapat dilakukan melalui perangkat yang terhubung dengan internet.
Namun, peningkatan aktivitas digital juga membuat sektor keuangan menjadi salah satu bidang yang perlu mendapatkan perhatian serius dalam hal keamanan. Sistem yang menyimpan dan mengelola data penting berpotensi menjadi sasaran berbagai bentuk serangan siber.
Badan Siber dan Sandi Negara atau BSSN mencatat terdapat sekitar 3,64 miliar anomali serangan siber sepanjang Januari hingga Juli 2025. Angka tersebut menunjukkan besarnya ancaman yang harus diantisipasi seiring dengan semakin luasnya penggunaan teknologi digital.
Direktur Keamanan Siber dan Sandi Keuangan, Perdagangan, dan Pariwisata BSSN, Edit Prima, mengatakan tantangan dalam menjaga keamanan digital semakin kompleks. Salah satu kendalanya adalah kemampuan pemantauan terhadap aktivitas digital yang masih terbatas.
Saat ini, BSSN disebut baru dapat melakukan pemantauan terhadap kurang dari 10 persen aktivitas digital. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat ruang yang sangat luas yang perlu diperkuat untuk meningkatkan kemampuan deteksi dan pengawasan terhadap ancaman siber.
Digitalisasi sektor keuangan pada dasarnya memberikan peluang besar bagi pertumbuhan ekonomi. Teknologi dapat membantu mempercepat transaksi, memperluas akses layanan keuangan, dan meningkatkan efisiensi berbagai kegiatan ekonomi.
Meski demikian, manfaat tersebut harus diiringi dengan sistem keamanan yang memadai. Tanpa perlindungan yang kuat, semakin banyaknya aktivitas keuangan secara digital dapat meningkatkan potensi kerugian akibat pencurian data, penipuan, maupun serangan terhadap sistem.
Keamanan siber karena itu tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaga pemerintah. Perusahaan yang bergerak di bidang keuangan, penyedia layanan teknologi, serta masyarakat sebagai pengguna layanan digital juga memiliki peran dalam menjaga keamanan ekosistem digital.
Perusahaan keuangan perlu meningkatkan kemampuan dalam mendeteksi aktivitas yang mencurigakan. Sistem keamanan juga harus mampu mengenali pola serangan sejak dini sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum gangguan berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Penguatan sumber daya manusia juga menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman tersebut. Tenaga yang memiliki kemampuan di bidang keamanan siber dibutuhkan untuk mengelola sistem, menganalisis ancaman, serta merancang langkah perlindungan terhadap infrastruktur digital.
Selain sumber daya manusia, perkembangan teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keamanan. Sistem pemantauan dan analisis data dapat membantu mengidentifikasi aktivitas tidak normal yang berpotensi menjadi indikasi serangan siber.
Tantangan keamanan semakin kompleks seiring munculnya teknologi baru, termasuk kecerdasan buatan atau AI. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan pertahanan digital, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengembangkan metode serangan yang lebih canggih.
Karena itu, transformasi digital di sektor keuangan perlu dilakukan secara seimbang. Pengembangan layanan digital tidak cukup hanya berorientasi pada kecepatan dan kemudahan, tetapi juga harus memperhatikan perlindungan data serta ketahanan sistem terhadap berbagai ancaman.
Penguatan keamanan siber pada akhirnya menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan keuangan digital. Dengan meningkatkan kemampuan pemantauan, teknologi keamanan, sumber daya manusia, dan kerja sama antarpihak, digitalisasi sektor keuangan diharapkan dapat terus berkembang tanpa mengabaikan aspek keamanan.