BMKG Ungkap Penyebab Belum Bisa Laksanakan Modifikasi Cuaca untuk Atasi Kebakaran Hutan

Berita Terkini Indonesia
0

 

Bali - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum dapat dilaksanakan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut berkaitan dengan faktor cuaca yang belum mendukung pelaksanaan operasi.


Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, mengatakan kendala utama saat ini adalah belum terbentuknya awan konvektif yang dapat digunakan untuk proses penyemaian. Keberadaan awan tersebut menjadi salah satu syarat penting dalam pelaksanaan OMC.


OMC merupakan metode yang dilakukan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah tertentu. Dalam prosesnya, bahan berupa garam atau natrium klorida (NaCl) disebarkan ke dalam awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan.


Penyemaian awan tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Tim harus terlebih dahulu menemukan awan yang memenuhi kondisi teknis tertentu agar proses modifikasi cuaca dapat berjalan secara efektif.


Pelaksanaan OMC dilakukan dengan menggunakan pesawat khusus. Operasi tersebut membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan TNI Angkatan Udara.


Tri Handoko Seto menjelaskan bahwa kondisi cuaca di setiap daerah berbeda-beda. Karena itu, BMKG terus melakukan pemantauan untuk mencari wilayah yang memiliki pertumbuhan awan dan kondisi atmosfer yang memungkinkan dilaksanakannya OMC.


Berdasarkan pemantauan BMKG, pelaksanaan OMC diperkirakan belum memungkinkan dalam waktu dekat. Operasi tersebut kemungkinan baru dapat dilakukan sekitar 10 hari ke depan, tetapi waktunya tetap bergantung pada perkembangan awan di masing-masing daerah.


Situasi tersebut menjadi perhatian karena kebakaran hutan dan lahan dilaporkan meningkat dalam beberapa hari terakhir. BNPB mencatat adanya sejumlah titik kebakaran yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia pada periode 7 hingga 10 Agustus 2026.


Kebakaran dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Sumatera, Jawa, Bangka Belitung, Sulawesi, Maluku Utara, hingga Papua Barat Daya. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan langkah cepat dan koordinasi antarinstansi.


Di Jawa Timur, salah satu lokasi yang terdampak cukup besar berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Hingga malam 9 Agustus 2026, luas area yang terbakar di kawasan tersebut dilaporkan mencapai sekitar 520 hektare.


Kebakaran di kawasan Bromo juga berdampak terhadap kegiatan wisata. Pengelola TNBTS kemudian menutup seluruh akses wisata untuk sementara sebagai langkah menjaga keselamatan pengunjung sekaligus mendukung proses penanganan kebakaran.


Selain Bromo, kebakaran juga terjadi di beberapa wilayah Jawa Timur lainnya. Gunung Watangan di Jember dilaporkan mengalami kebakaran dengan luas sekitar 6,5 hektare.


Di Jawa Tengah, karhutla tercatat terjadi di Jepara dan Banyumas. Luas lahan yang terbakar masing-masing sekitar 2 hektare dan 3 hektare, dengan salah satu kejadian di Banyumas disebut berkaitan dengan aktivitas pembakaran sampah.


Sejumlah wilayah di Sulawesi juga mengalami kebakaran. Di Pulau Bakalan, Banggai Kepulauan, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 72,4 hektare, sedangkan kebakaran di Gunung Batu Pongki, Tojo Una-Una, mencapai sekitar 3 hektare.


Meski OMC belum dapat dilakukan di sejumlah wilayah karena kondisi awan belum memenuhi persyaratan, penanganan karhutla tetap dilakukan melalui berbagai upaya lain. Petugas di lapangan terus dikerahkan untuk memadamkan api dan mencegah penyebarannya. BMKG juga tetap memantau perkembangan cuaca agar ketika awan yang sesuai terbentuk, operasi modifikasi cuaca dapat segera dilaksanakan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)