NANNING - Sejumlah perusahaan Singapura mulai melihat Nanning, Guangxi, sebagai pintu masuk untuk memperluas bisnis ke pasar China. Kota tersebut dinilai menawarkan peluang di tengah persaingan yang lebih ketat di kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, dan Shenzhen.
Ketertarikan itu terlihat dalam China-ASEAN Expo ke-23 yang berlangsung di Nanning pada 17-21 September 2026. Lebih dari 50 perusahaan Singapura ikut ambil bagian, termasuk pelaku usaha yang baru mencoba pasar China maupun perusahaan yang telah lama membangun jaringan bisnis di kawasan tersebut.
Bagi sejumlah pelaku usaha, Guangxi dianggap sebagai kawasan yang lebih terbuka untuk dikembangkan dibandingkan pasar utama China yang sudah sangat kompetitif. Kondisi tersebut kemudian disebut sebagai konsep “blue ocean”, yakni pasar dengan tingkat persaingan yang relatif lebih rendah dan masih memiliki ruang pertumbuhan.
Nanning juga memiliki posisi strategis dalam hubungan perdagangan China dan Asia Tenggara. Kehadiran Terusan Pinglu yang memperpendek jalur menuju Laut China Selatan turut meningkatkan perhatian terhadap potensi Guangxi sebagai penghubung perdagangan antara China bagian selatan dan negara-negara ASEAN.
Meski peluangnya besar, perusahaan Singapura tetap membutuhkan waktu untuk memahami karakter pasar dan menemukan mitra yang tepat. Proses masuk ke pasar China dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, sehingga pelaku usaha menilai pendekatan bertahap, membangun jaringan, serta melakukan pemeriksaan terhadap calon mitra menjadi bagian penting sebelum memperluas bisnis.
