PT VKTR secara resmi menyerahkan dua unit bus listrik kepada UNY. Kehadiran kendaraan tersebut menjadi bagian dari kerja sama antara perguruan tinggi dan industri nasional dalam mendorong penggunaan transportasi rendah emisi.
Pemanfaatan bus listrik tersebut diharapkan dapat mendukung kebutuhan mobilitas sivitas akademika di lingkungan kampus. Selain memberikan kemudahan transportasi, penggunaan kendaraan listrik juga menjadi langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan berbahan bakar fosil.
Rektor UNY, Prof. Dr. Sumaryanto, menyampaikan bahwa penggunaan bus listrik sejalan dengan komitmen kampus dalam menciptakan lingkungan yang lebih hijau. Program tersebut juga berkaitan dengan agenda pembangunan berkelanjutan atau SDGs, khususnya tujuan mengenai energi bersih, kota dan komunitas berkelanjutan, serta penanganan perubahan iklim.
Menurut pihak UNY, keberadaan bus listrik tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan. Kendaraan tersebut juga diharapkan dapat memberikan pengalaman perjalanan yang lebih nyaman bagi mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, dan seluruh warga kampus.
UNY juga melihat kerja sama ini sebagai salah satu contoh penerapan teknologi ramah lingkungan dalam sektor pendidikan. Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam kegiatan akademik, tetapi juga dapat menjadi tempat penerapan berbagai inovasi teknologi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Dalam penyediaan bus tersebut, VKTR bekerja sama dengan Laksana sebagai mitra karoseri. Kolaborasi tersebut menunjukkan adanya sinergi antara produsen kendaraan listrik dan industri karoseri dalam negeri untuk menghasilkan kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Laksana menyatakan bahwa bus listrik untuk UNY memiliki tingkat komponen dalam negeri yang tinggi. Penggunaan komponen lokal mencakup sejumlah bagian, mulai dari struktur bodi, sistem kelistrikan, hingga proses perakitan kendaraan.
Pengembangan kendaraan dengan kandungan lokal tersebut menunjukkan bahwa industri otomotif nasional memiliki kemampuan untuk memproduksi kendaraan listrik dengan standar kualitas dan keamanan yang kompetitif. Hal ini sekaligus membuka peluang bagi industri dalam negeri untuk semakin berkembang di tengah perubahan menuju kendaraan elektrifikasi.
Penggunaan bus listrik juga menjadi salah satu langkah untuk mendukung transisi menuju sistem transportasi yang lebih rendah emisi. Kendaraan listrik tidak menghasilkan emisi gas buang dari proses pembakaran bahan bakar seperti kendaraan konvensional.
VKTR sendiri terus memperluas penerapan kendaraan listrik komersial di berbagai sektor. Penggunaannya tidak hanya diarahkan untuk transportasi umum, tetapi juga mencakup kebutuhan logistik, kawasan industri, dan institusi pendidikan.
Perusahaan tersebut menilai bahwa pengembangan kendaraan listrik harus didukung oleh ekosistem yang kuat. Inovasi teknologi saja tidak cukup apabila tidak diikuti dengan kerja sama antara industri, pemerintah, institusi pendidikan, dan masyarakat.
Dari sisi operasional, kendaraan listrik juga diharapkan dapat memberikan manfaat berupa efisiensi dan kenyamanan. Penerapan teknologi elektrifikasi menjadi bagian dari upaya menciptakan sistem transportasi yang lebih modern dan sesuai dengan kebutuhan mobilitas masa depan.
Kerja sama antara UNY, VKTR, dan Laksana juga memperlihatkan bahwa institusi pendidikan dapat menjadi mitra strategis bagi industri dalam menerapkan inovasi. Kampus dapat menjadi lingkungan untuk menguji sekaligus memperkenalkan teknologi baru kepada masyarakat.
Pada akhirnya, penggunaan dua unit bus listrik di UNY bukan hanya menjadi penambahan fasilitas transportasi kampus. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat mobilitas berkelanjutan, penggunaan teknologi kendaraan listrik, pengembangan industri nasional, serta pengurangan emisi. Kolaborasi seperti ini diharapkan dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik sekaligus mendukung transisi energi di Indonesia.