Indonesia Dinilai Perlu Cermati Pemanfaatan Teknologi Digital Tiongkok dalam Pengembangan Kawasan

Berita Terkini Indonesia
0

 

Bali - Pemerintah Tiongkok terus memperluas penggunaan teknologi digital sebagai bagian dari pembangunan berbagai kawasan. Teknologi tidak hanya digunakan sebagai fasilitas tambahan, tetapi mulai ditempatkan sebagai bagian penting dalam perencanaan dan pengelolaan kawasan.


Pemanfaatan teknologi tersebut menjadi salah satu hal yang menarik perhatian dalam seminar mengenai pengembangan kawasan di Tiongkok. Kegiatan tersebut membahas berbagai aspek, mulai dari pembangunan infrastruktur, revitalisasi wilayah perdesaan, pengembangan industri, pelayanan publik hingga pengelolaan lingkungan.


Direktur Riset ENSO Research & Consulting, Entis Somantri atau Paes, yang mengikuti kegiatan tersebut melihat adanya integrasi teknologi digital dalam berbagai tahapan pembangunan kawasan di Tiongkok.


Menurutnya, teknologi digital di Tiongkok tidak hanya digunakan setelah suatu wilayah selesai dibangun. Teknologi justru sudah menjadi bagian dari proses perencanaan, pengembangan, pelayanan, hingga pengelolaan kawasan.


Infrastruktur digital yang digunakan mencakup berbagai teknologi seperti jaringan serat optik, jaringan 5G, cloud computing, pusat data, big data, hingga Artificial Intelligence (AI). Berbagai teknologi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari infrastruktur pendukung pembangunan kawasan.


Perkembangan jaringan digital di wilayah perdesaan Tiongkok juga tergolong luas. Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam seminar, jaringan serat optik telah menjangkau sekitar 99,7 persen desa administratif, sedangkan cakupan jaringan 5G di wilayah perdesaan mencapai 91,2 persen pada Maret 2025.


Ketersediaan jaringan digital tersebut dinilai memiliki fungsi yang hampir sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur fisik. Jika jalan membantu membuka akses suatu wilayah secara fisik, jaringan digital dapat menghubungkan masyarakat dengan informasi, pengetahuan, pelayanan, serta pasar.


Teknologi digital juga dimanfaatkan untuk memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat. Salah satu penerapannya terlihat dalam pengembangan kawasan perdesaan yang terhubung dengan e-commerce dan ekonomi digital.


Produk pertanian dan berbagai hasil lokal tidak hanya dipasarkan melalui jalur perdagangan konvensional. Masyarakat juga dapat memanfaatkan perdagangan elektronik, media sosial, serta siaran langsung untuk memperkenalkan dan menjual produk mereka kepada konsumen.


Pemanfaatan teknologi tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi tidak dimaksudkan untuk menggantikan kegiatan ekonomi yang sudah ada. Sebaliknya, teknologi digunakan sebagai alat untuk memperkuat sektor pertanian, industri lokal, perdagangan, dan sistem logistik.


Selain mendukung kegiatan ekonomi, teknologi digital juga dimanfaatkan untuk mengurangi kesenjangan pelayanan antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Dengan adanya jaringan digital, masyarakat di daerah yang jauh dari pusat kota tetap dapat memperoleh akses terhadap berbagai layanan.


Dalam sektor pendidikan, misalnya, akses internet untuk sekolah dasar dan menengah di Tiongkok disebut telah mencapai 100 persen hingga akhir 2022. Tiongkok juga mengembangkan Platform Layanan Publik Pendidikan Cerdas Nasional untuk memperluas akses masyarakat terhadap sumber daya pendidikan berkualitas hingga wilayah perdesaan.


Pemanfaatan teknologi juga diterapkan dalam bidang kesehatan. Salah satu bentuknya adalah jaringan pelayanan kesehatan jarak jauh yang menghubungkan berbagai tingkatan wilayah, mulai dari provinsi, kota, kabupaten, kota praja hingga desa.


Meski demikian, pengalaman Tiongkok tidak dapat diterapkan begitu saja di Indonesia. Perbedaan kondisi geografis, sosial, ekonomi, dan sistem pemerintahan membuat Indonesia perlu menyesuaikan konsep tersebut dengan karakteristik dan kebutuhan dalam negeri.


Ada sejumlah prinsip yang dinilai dapat dipelajari Indonesia, termasuk untuk pengembangan kawasan transmigrasi. Infrastruktur digital perlu dipandang sebagai bagian dari infrastruktur dasar, sementara digitalisasi harus terhubung dengan ekonomi lokal, pembangunan berbasis data, serta perluasan akses terhadap pendidikan, kesehatan, pelayanan pemerintah, dan pasar. Transformasi digital juga harus dilakukan secara inklusif agar masyarakat yang belum memiliki kemampuan teknologi tidak tertinggal.


Pada akhirnya, tujuan penerapan teknologi digital dalam pembangunan kawasan bukan sekadar membuat sebuah wilayah terlihat modern. Keberhasilannya harus diukur dari kemampuan teknologi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat, mempermudah pelayanan, memperluas pasar produk lokal, serta meningkatkan kualitas hidup. Dengan pendekatan tersebut, Indonesia dapat mengambil pelajaran dari pengalaman Tiongkok tanpa harus meniru seluruh sistemnya secara langsung.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)