Kisah Annita, Alumni FK UNS yang Mengabdi di Wilayah 3T

Berita Terkini Indonesia
0

 

Bali - Pengabdian tenaga kesehatan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) menjadi salah satu upaya untuk memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat. Hal tersebut dilakukan Annita Viesta Nirmala Dewi, S Tr Keb, MPH, alumni Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS), yang turut dalam misi pelayanan kesehatan ke sejumlah wilayah kepulauan.


Annita mengikuti misi bertajuk “Deteksi Dini dan Upaya Promotif, Preventif, dan Kuratif Menuju Pulau Sehat, Produktif, dan Bahagia.” Dalam kegiatan tersebut, ia bergabung bersama tim Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat di beberapa lokasi yang memiliki keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan.


Perjalanan menuju wilayah sasaran tidak mudah. Tim harus menempuh perjalanan laut selama puluhan jam sebelum tiba di sejumlah lokasi, yakni Bluto, Pulau Raas, Pulau Karamian, dan Pulau Masalembu. Misi pelayanan kesehatan tersebut berlangsung selama 13 hari dengan membawa berbagai kebutuhan untuk mendukung kegiatan medis di lapangan.


Setibanya di lokasi, tim menemukan sejumlah keterbatasan yang masih dihadapi masyarakat. Salah satunya berkaitan dengan akses terhadap air bersih. Selain itu, pasokan listrik di beberapa wilayah juga belum tersedia sepanjang hari dan masih mengandalkan generator diesel yang umumnya digunakan pada malam hari.


Meski menghadapi kondisi tersebut, kedatangan tim kesehatan mendapat sambutan positif dari masyarakat. Kehadiran tenaga kesehatan menjadi kesempatan bagi warga untuk memperoleh pemeriksaan sekaligus mendapatkan informasi mengenai berbagai upaya menjaga kesehatan.


Dalam setiap lokasi pelayanan, tim Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga melayani sekitar 120 hingga 160 pasien. Annita turut membantu proses pelayanan, termasuk melakukan triase dan pengukuran antropometri. Kedua kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung proses pemeriksaan dan penilaian kondisi kesehatan pasien.


Selain memberikan pelayanan medis, tim juga memberikan perhatian kepada kelompok remaja. Sebanyak 410 remaja dari sejumlah wilayah mengikuti kegiatan edukasi kesehatan. Peserta tersebut berasal dari Bluto sekitar 130 orang, Pulau Raas 140 orang, Pulau Karamian 80 orang, dan Pulau Masalembu sekitar 60 orang.


Bagi Annita, kegiatan edukasi tersebut memberikan pengalaman tersendiri karena karakter masyarakat di setiap wilayah ternyata berbeda. Remaja di Pulau Raas cenderung lebih pendiam, sedangkan peserta di Pulau Karamian lebih aktif berdiskusi. Sementara itu, di Pulau Masalembu terdapat peserta yang dengan sukarela mengikuti permainan peran dalam kegiatan edukasi.


Perbedaan karakter tersebut membuat Annita menyadari bahwa penyampaian informasi kesehatan tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sama di setiap daerah. Tenaga kesehatan perlu memahami kondisi masyarakat dan menyesuaikan metode komunikasi agar pesan yang diberikan lebih mudah dipahami dan diterima.


Pengalaman mengabdi di wilayah 3T juga memberikan kesan mendalam bagi Annita. Ia melihat banyak remaja di daerah tersebut memiliki cita-cita besar, termasuk keinginan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Menurutnya, keterbatasan fasilitas bukan alasan untuk menghentikan seseorang dalam mengejar masa depan. Bagi Annita, menjadi tenaga kesehatan bukan hanya mengenai memberikan pelayanan medis, tetapi juga membangun kepercayaan, memberikan edukasi, dan tumbuh bersama masyarakat yang dilayani.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)