Risiko terpeleset menjadi semakin serius bagi kelompok lanjut usia. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut orang berusia lebih dari 60 tahun sebagai kelompok yang sangat rentan mengalami cedera akibat jatuh. Kondisi fisik yang berubah seiring bertambahnya usia membuat lansia lebih berisiko kehilangan keseimbangan.
Jatuh pada lansia tidak selalu berakhir dengan cedera ringan. Benturan dapat menyebabkan patah tulang, terutama pada bagian panggul, cedera kepala, hingga gangguan pada kemampuan bergerak. Dalam kondisi tertentu, cedera tersebut bahkan dapat membuat lansia kehilangan kemandirian dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
WHO mencatat bahwa kejadian jatuh merupakan salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang serius di dunia. Setiap tahun, diperkirakan sekitar 684 ribu orang meninggal akibat kejadian jatuh, sementara lebih dari 37 juta kasus lainnya membutuhkan penanganan medis.
Kerentanan lansia terhadap cedera akibat jatuh berkaitan dengan sejumlah perubahan yang terjadi pada tubuh. Seiring bertambahnya usia, kekuatan fisik, kemampuan menjaga keseimbangan, serta kepadatan tulang dapat mengalami penurunan. Kondisi tersebut membuat dampak dari sebuah jatuh dapat menjadi lebih berat.
Dampak jatuh juga tidak hanya dirasakan secara fisik. Lansia yang pernah mengalami kejadian tersebut dapat mengalami rasa takut untuk kembali berjalan atau melakukan aktivitas. Kekhawatiran tersebut dapat membuat mereka membatasi pergerakan dan mengurangi interaksi dengan lingkungan sekitar.
Selain lansia, anak-anak dan orang dewasa juga tetap memiliki risiko mengalami kecelakaan akibat terpeleset. Cedera yang terjadi dapat berupa memar, keseleo, robekan ligamen, patah tulang, hingga cedera pada kepala dan tulang belakang.
Benturan pada bagian kepala menjadi salah satu kondisi yang perlu mendapatkan perhatian serius. Apabila kepala mengenai permukaan yang keras, seseorang dapat mengalami gegar otak atau cedera otak traumatik yang membutuhkan pemeriksaan serta penanganan medis.
Kamar mandi menjadi salah satu area rumah yang memiliki risiko tinggi untuk terjadinya kecelakaan akibat terpeleset. Air dan sabun dapat membuat permukaan lantai menjadi lebih licin, terutama apabila lantai tidak memiliki daya cengkeram yang cukup.
Namun, risiko jatuh tidak hanya terdapat di kamar mandi. Dapur, teras, tempat mencuci, dan area di sekitar kolam renang juga perlu diperhatikan karena tempat-tempat tersebut sering berada dalam kondisi basah atau lembap.
Pencegahan kecelakaan dapat dilakukan dengan memperbaiki kondisi lingkungan rumah. Pencahayaan yang cukup, pemasangan pegangan pada area tertentu, serta menjaga lantai tetap kering merupakan beberapa langkah sederhana yang dapat membantu mengurangi risiko jatuh.
Pemilihan material lantai juga menjadi salah satu faktor yang penting. Permukaan yang terlalu licin dapat meningkatkan kemungkinan seseorang kehilangan keseimbangan, terutama ketika terkena air. Karena itu, penggunaan material yang memiliki daya cengkeram lebih baik dapat menjadi salah satu pilihan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman.
Perkembangan teknologi material bangunan juga menghadirkan berbagai jenis lantai yang dirancang untuk mengurangi risiko terpeleset. Salah satunya adalah material dengan teknologi anti-slip yang memiliki daya cengkeram lebih tinggi ketika digunakan pada area yang berpotensi basah.
Pencegahan jatuh sebenarnya dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Membersihkan genangan air, menjaga lantai tidak dipenuhi barang yang menghalangi jalan, memastikan pencahayaan memadai, serta menggunakan fasilitas pendukung bagi lansia dapat membantu menciptakan lingkungan rumah yang lebih aman.
Pada akhirnya, lantai licin bukan sekadar persoalan kenyamanan, tetapi juga berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan. Perhatian lebih perlu diberikan kepada lansia karena kelompok ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami cedera serius ketika terjatuh. Dengan mengenali faktor risiko dan melakukan pencegahan sejak awal, kemungkinan terjadinya kecelakaan di rumah dapat dikurangi.