Selain prospek permintaan yang melemah, kenaikan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat juga menjadi perhatian para pelaku pasar. Peningkatan stok tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak dunia.
Harga minyak jenis Brent, yang menjadi salah satu patokan harga minyak global, turun sekitar US$1,91 per barel atau 2,15 persen. Pada akhir perdagangan, Brent berada di level US$87,07 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi acuan di Amerika Serikat juga mengalami penurunan. WTI melemah sekitar US$2,02 atau 2,4 persen hingga ditutup pada level US$81,25 per barel.
Penurunan harga bahkan sempat lebih tajam pada awal perdagangan. Harga Brent dan WTI sempat terkoreksi lebih dari 3,5 persen sebelum akhirnya mengalami sedikit pemulihan menjelang penutupan.
Salah satu sentimen yang turut memengaruhi pergerakan pasar adalah kabar mengenai serangan kelompok Houthi dari Yaman terhadap fasilitas kilang minyak Saudi Aramco di Jazan, Arab Saudi, menggunakan drone.
Di luar faktor geopolitik tersebut, investor juga sedang memperhatikan perkembangan persediaan minyak dunia. Data mengenai jumlah stok dan perkiraan konsumsi menjadi pertimbangan penting dalam menentukan arah harga minyak.
Badan Informasi Energi Amerika Serikat atau EIA melaporkan adanya peningkatan besar pada persediaan minyak mentah komersial AS. Kenaikan tersebut disebut sebagai peningkatan mingguan terbesar sejak Januari 2023.
Persediaan minyak mentah AS bertambah sekitar 17,4 juta barel, sehingga total stok mencapai 424,4 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Agustus. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sejak awal Juni.
Peningkatan stok terjadi bersamaan dengan penurunan ekspor minyak AS. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasokan minyak yang tersedia di dalam negeri meningkat ketika sebagian permintaan dari pasar luar negeri mengalami pelemahan.
Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau OPEC juga menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk 2026. Dalam laporan bulanannya, OPEC memperkirakan pertumbuhan permintaan hanya sekitar 580 ribu barel per hari.
Perkiraan tersebut menunjukkan bahwa pasar minyak global menghadapi prospek permintaan yang lebih lemah dibandingkan sebelumnya. Jika konsumsi tidak tumbuh sesuai harapan, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap harga minyak.
Badan Energi Internasional atau IEA bahkan memperkirakan konsumsi minyak dunia akan mengalami penurunan sekitar 1,6 juta barel per hari pada tahun ini. Proyeksi tersebut lebih besar dibandingkan perkiraan penurunan 1 juta barel per hari pada bulan sebelumnya.
IEA menilai tingginya harga minyak serta keterbatasan pasokan akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran turut memengaruhi tingkat konsumsi. Situasi tersebut membuat pelaku pasar terus mencermati perkembangan geopolitik dan kondisi pasokan energi global.
Secara keseluruhan, penurunan harga minyak dunia dipengaruhi oleh kombinasi antara kekhawatiran terhadap melemahnya permintaan global dan meningkatnya persediaan minyak mentah Amerika Serikat. Perkembangan geopolitik serta kebijakan produksi negara-negara penghasil minyak juga akan tetap menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan harga minyak selanjutnya.