Garda Revolusi Iran Nyatakan Siap Konflik Panjang dengan AS

Berita Terkini Indonesia
0

 

Bali - Iran menyatakan kesiapannya menghadapi konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari upaya Iran untuk memastikan keamanan negaranya dan menciptakan efek jera agar pihak lain tidak mudah melakukan serangan.


Penasihat utama Komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC, Mohammad Reza Naqdi, mengatakan bahwa negaranya perlu membangun kemampuan untuk menghadapi kemungkinan konflik dalam waktu yang panjang. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan PBS.


Menurut Naqdi, Iran perlu memberikan konsekuensi yang cukup besar kepada pihak yang menyerangnya. Dengan demikian, negara lain diharapkan mempertimbangkan risiko sebelum mengambil tindakan militer terhadap Iran.


Naqdi bahkan menyebut bahwa konflik dapat diperpanjang hingga masa jabatan presiden Amerika Serikat berikutnya. Menurutnya, langkah tersebut diperlukan agar serangan terhadap Iran dapat menimbulkan kerugian yang membuat pihak lawan berpikir ulang untuk melakukan tindakan serupa.


Dalam pernyataannya, Naqdi juga mengklaim bahwa kemampuan militer Amerika Serikat ternyata tidak sekuat perkiraan Iran sebelumnya. Pernyataan tersebut menjadi bagian dari narasi Iran dalam menghadapi ketegangan militer dengan Washington.


Hubungan Iran dan Amerika Serikat sendiri telah mengalami ketegangan yang cukup serius. Kedua negara sebelumnya sempat mencapai kesepahaman yang bertujuan mengakhiri konflik yang berlangsung sejak akhir Februari 2026.


Pada 18 Juni 2026, Iran dan Amerika Serikat disebut telah menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik. Kesepakatan tersebut sempat memberikan harapan bahwa ketegangan antara kedua negara dapat dikurangi dan membuka peluang menuju perdamaian.


Namun, situasi kembali memburuk setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pada 8 Juli bahwa gencatan senjata tersebut tidak lagi berlaku. Kondisi itu kemudian membuka kembali kemungkinan terjadinya konflik antara kedua negara.


Ketegangan semakin meningkat setelah Iran pada 12 Juli mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Teheran menyatakan jalur strategis tersebut akan ditutup sampai campur tangan Amerika Serikat di kawasan tersebut berakhir.


Selat Hormuz memiliki posisi yang sangat penting dalam perdagangan energi dunia. Jalur tersebut menjadi salah satu rute utama bagi pengiriman minyak dan gas sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut dapat memberikan dampak yang luas terhadap aktivitas perdagangan internasional.


Sehari setelah pengumuman Iran mengenai Selat Hormuz, Presiden Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan berperan sebagai “penjaga” jalur tersebut. Washington juga kembali memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.


Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan antara Iran dan Amerika Serikat tidak hanya berkaitan dengan kepentingan militer. Perselisihan juga memiliki dampak terhadap keamanan kawasan serta jalur perdagangan dan energi internasional.


Pemerintah Amerika Serikat kemudian disebut mengurangi upaya untuk mencapai kesepakatan baru dengan Iran. Trump mengatakan proses tersebut sedang diturunkan intensitasnya dengan harapan tekanan ekonomi dapat memberikan pengaruh terhadap pemerintah Iran.


Di sisi lain, pernyataan dari Garda Revolusi Iran menunjukkan bahwa Teheran masih mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan konflik yang lebih panjang. Iran berupaya menunjukkan bahwa mereka tidak akan mudah menyerah terhadap tekanan militer maupun ekonomi dari Amerika Serikat.


Dengan meningkatnya ketegangan tersebut, kemungkinan konflik berkepanjangan antara Iran dan Amerika Serikat masih menjadi perhatian. Pernyataan IRGC menunjukkan sikap tegas Iran untuk mempertahankan keamanan dan kepentingannya, sementara perkembangan terkait gencatan senjata, Selat Hormuz, serta tekanan ekonomi akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah hubungan kedua negara ke depan.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)