Bali - Dinas Kesehatan Sumatera Selatan mencatat adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang Januari hingga Juni 2026. Jumlah kasus yang tercatat mencapai 259.297 kasus, meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena peningkatan kasus terjadi bersamaan dengan menurunnya kualitas udara akibat paparan asap dari kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Asap yang memenuhi udara dapat mengganggu sistem pernapasan masyarakat, terutama ketika konsentrasi polutan meningkat.
Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Trisnawarman menjelaskan bahwa peningkatan kasus ISPA memang kerap terjadi ketika memasuki musim kemarau. Situasi tersebut dapat semakin diperburuk apabila musim kemarau disertai dengan kebakaran hutan dan lahan yang menghasilkan asap dalam jumlah besar.
Berdasarkan catatan Dinkes Sumsel, jumlah kasus ISPA pada Januari hingga Juni 2026 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada 2025, tercatat sebanyak 257.935 kasus, sedangkan pada tahun ini jumlahnya mencapai 259.297 kasus.
Meski jumlah kumulatif mengalami peningkatan, perkembangan kasus secara bulanan justru menunjukkan kecenderungan menurun. Pada Januari 2026 terdapat 50.651 kasus, kemudian jumlah tersebut turun menjadi 33.582 kasus pada Juni. Penurunan serupa juga terlihat pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, penurunan kasus per bulan tersebut belum dapat dijadikan alasan untuk menganggap risiko ISPA telah berakhir. Dinkes Sumsel masih menunggu data kasus pada Juli, sementara periode Agustus hingga September diperkirakan menjadi bagian dari puncak musim kemarau yang berpotensi kembali memperburuk kualitas udara.
Sejumlah daerah menjadi wilayah yang perlu mendapatkan perhatian lebih karena memiliki jumlah kasus relatif tinggi. Palembang tercatat sebagai wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 85.032 kasus, disusul Muara Enim 30.668 kasus dan Musi Banyuasin sebanyak 17.946 kasus. Wilayah lainnya juga mencatat ribuan kasus ISPA.
Menghadapi kondisi tersebut, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika kualitas udara memburuk. Salah satu langkah yang dianjurkan adalah menggunakan masker saat berada di luar ruangan atau ketika harus beraktivitas di lingkungan yang terpapar asap.
Selain menggunakan perlindungan pernapasan, masyarakat juga diimbau menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Langkah tersebut penting untuk membantu menjaga kondisi tubuh sekaligus mengurangi risiko gangguan kesehatan yang dapat muncul akibat paparan lingkungan dengan kualitas udara yang buruk.
Masyarakat juga diminta tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami keluhan pernapasan. Jika gejala tidak kunjung membaik atau muncul tanda seperti sesak napas, warga dianjurkan segera mendatangi puskesmas atau rumah sakit agar kondisi dapat diperiksa dan ditangani lebih cepat.