Fauzan merupakan mahasiswa Program Studi Fisika FMIPA ITB. Ketika pertama kali memasuki dunia perkuliahan, ia merasa kemampuan dasar sains yang dimilikinya masih cukup tertinggal dibandingkan tuntutan akademik di kampus.
Tahun pertama perkuliahan menjadi salah satu masa yang cukup berat bagi Fauzan. Pada masa Tahap Persiapan Bersama (TPB), ia harus berusaha beradaptasi dengan lingkungan akademik dan materi perkuliahan yang menurutnya cukup menantang.
Perubahan dalam perjalanan akademiknya mulai terlihat ketika memasuki semester keempat. Saat mengikuti mata kuliah Sistem Instrumentasi dan Eksperimen Fisika, Fauzan menemukan bidang yang sesuai dengan minatnya, yaitu fisika eksperimen.
Ketertarikannya terhadap fisika ternyata bukan pada sekadar menghafal rumus atau menyelesaikan persamaan di atas kertas. Ia justru lebih menikmati kegiatan yang melibatkan proses membuat sesuatu, melakukan pengukuran, menemukan kesalahan, kemudian mencoba kembali sampai memperoleh solusi.
Dari pengalaman tersebut, rasa ingin tahu Fauzan terhadap penelitian semakin berkembang. Ia kemudian mulai menekuni kegiatan riset dengan lebih serius dan berusaha mengembangkan kemampuan eksperimennya.
Perjalanan penelitian Fauzan tidak berjalan mulus sejak awal. Pada Mei 2025, material pertama yang digunakannya mengalami kegagalan dan menghasilkan data yang tidak konsisten. Atas arahan dosen pembimbingnya, Prof. Dr. Eng. Muhammad Miftahul Munir, S.Si., M.Si., ia kemudian beralih menggunakan sistem bubuk Fe-Zn.
Selama Juni hingga November 2025, Fauzan melakukan pengukuran secara manual selama sekitar enam bulan. Berbagai proses harus dilakukan satu per satu, mulai dari menimbang bahan, melakukan penekanan, mengukur ketebalan, hingga mencatat hasil pengamatan secara manual.
Setelah melalui proses tersebut, Fauzan berusaha membuat sistem pengukuran yang lebih otomatis. Pada Desember 2025, ia merancang dan merakit alat bernama CAAI 2013 yang digunakan untuk mengukur resistivitas bubuk secara otomatis.
Tantangan kembali muncul pada Januari hingga Maret 2026. Selama tiga bulan, proses kalibrasi ketebalan mengalami kegagalan berulang kali. Kondisi tersebut bahkan hampir membuat penelitian yang telah dikerjakannya harus dihentikan.
Fauzan kemudian menemukan solusi melalui pendekatan koreksi matematis setelah proses pengukuran dilakukan. Cara tersebut membuat penelitian dapat dilanjutkan dan membuka jalan bagi penemuan penting dalam eksperimennya.
Pada Maret hingga Mei 2026, penelitian tersebut menghasilkan temuan mengenai adanya perbedaan resistivitas yang sangat besar, mencapai sekitar 56 kali lipat, pada dua konfigurasi sampel dengan komposisi yang sama. Perbedaan tersebut ternyata berkaitan dengan topologi kontak, bukan karena perbedaan komposisi material.
Tahap berikutnya juga tidak mudah. Pada Mei hingga Agustus 2026, reviewer meminta data tambahan berupa XPS dan TEM, sementara fasilitas untuk melakukan pengujian tersebut tidak tersedia di laboratorium tempat Fauzan melakukan penelitian.
Fauzan kemudian menghabiskan waktu sekitar tiga minggu untuk mencari bukti alternatif yang tetap dapat memberikan dukungan ilmiah terhadap hasil penelitiannya. Usahanya akhirnya membuahkan hasil setelah manuskrip yang dikerjakannya diterima dan resmi diterbitkan pada 4 Agustus 2026 dalam jurnal terindeks Q1 Elsevier.
Artikel tersebut berjudul “Configuration-dependent in-situ electrical resistivity in Fe-Zn binary powder compacts: Sandwich asymmetry and the role of punch-contact topology”. Dari perjalanan tersebut, Fauzan menyampaikan bahwa IP rendah bukan alasan untuk berhenti berkembang. Ia mendorong mahasiswa untuk menerima keadaan, berani melakukan kesalahan, memahami diri sendiri, serta terus mengevaluasi setiap proses yang dijalani. Menurutnya, setiap orang memiliki perjalanan masing-masing dan hal terpenting adalah menghubungkan kegiatan yang dilakukan dengan sesuatu yang benar-benar disukai.