Sebuah ulasan yang diterbitkan dalam jurnal Brain Medicine pada Agustus 2026 membahas kembali anggapan mengenai durasi tidur ideal bagi orang dewasa. Kajian tersebut menunjukkan bahwa pola tidur manusia sebenarnya memiliki tingkat fleksibilitas yang cukup besar.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa kebiasaan tidur selama delapan jam secara terus-menerus bukanlah satu-satunya pola tidur yang pernah dijalani manusia. Sejarah kehidupan manusia menunjukkan adanya variasi durasi maupun pola tidur yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan.
Sebelum kehidupan modern berkembang seperti sekarang, manusia belum mengenal jadwal kerja tetap selama 40 jam dalam seminggu, alarm, maupun telepon seluler. Pola tidur pada masa tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi alam, lingkungan, serta siklus terang dan gelap.
Para peneliti kemudian mempelajari pola tidur sejumlah masyarakat pemburu-pengumpul untuk melihat gambaran mengenai kebiasaan tidur manusia secara alami. Penelitian yang dirujuk dalam kajian tersebut menemukan bahwa masyarakat di Tanzania dan Bolivia rata-rata tidur sekitar 5,7 hingga 7,1 jam setiap malam.
Durasi tidur yang relatif lebih pendek tersebut tidak dapat sepenuhnya dikaitkan dengan pengaruh kehidupan modern. Berbagai faktor lain, seperti lingkungan tempat tinggal, musim, serta metode yang digunakan untuk mengukur tidur, juga dapat memengaruhi hasil penelitian.
Analisis lain yang diterbitkan pada Februari 2025 memperkirakan bahwa masyarakat praindustri rata-rata tidur sekitar 6,4 jam. Temuan ini kembali menunjukkan bahwa manusia tidak selalu membutuhkan waktu tidur yang sama persis untuk mendapatkan istirahat.
Perubahan pola kehidupan terjadi ketika industrialisasi, elektrifikasi, dan urbanisasi mulai berkembang. Perubahan tersebut turut memengaruhi waktu tidur, durasi istirahat, serta keteraturan pola tidur masyarakat.
Salah satu faktor yang berpengaruh adalah penggunaan cahaya buatan pada malam hari. Aktivitas pekerjaan hingga larut malam dan paparan cahaya buatan dapat mengganggu ritme sirkadian, yaitu sistem alami tubuh yang mengatur siklus tidur dan bangun.
Meski begitu, sejumlah penelitian dengan jumlah peserta yang besar menunjukkan bahwa tidur sekitar delapan jam masih berkaitan dengan kondisi kesehatan yang baik. Artinya, delapan jam tetap dapat menjadi durasi yang sesuai bagi banyak orang, meskipun bukan merupakan aturan mutlak.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada Mei 2026 memberikan hasil yang lebih beragam. Dengan menganalisis kondisi otak dan berbagai organ tubuh, penelitian tersebut memperkirakan kebutuhan tidur optimal berada pada kisaran 6,4 hingga 7,8 jam, tergantung jenis kelamin dan organ yang diamati.
Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa kebutuhan tidur setiap orang bersifat individual. Ada orang yang sudah merasa segar setelah tidur dalam waktu lebih singkat, sementara orang lain mungkin membutuhkan waktu istirahat yang lebih panjang.
Sleep Foundation merekomendasikan orang dewasa berusia 26 hingga 64 tahun memperoleh waktu tidur sekitar tujuh sampai sembilan jam setiap hari. Meski demikian, kebutuhan individu dapat berada di luar rentang tersebut, dengan sebagian orang membutuhkan sekitar enam hingga sepuluh jam tidur.
Karena itu, seseorang tidak perlu merasa harus selalu mencapai angka delapan jam setiap malam. Selain memperhatikan durasi, penting pula mempertimbangkan apakah tidur yang diperoleh benar-benar membuat tubuh terasa segar dan mampu menjalankan aktivitas dengan baik.
Pada akhirnya, durasi tidur yang ideal tidak dapat ditentukan hanya dengan satu angka yang berlaku untuk semua orang. Kebutuhan tersebut dapat berbeda berdasarkan kondisi dan karakteristik individu, sehingga yang terpenting adalah memperoleh tidur yang cukup dan berkualitas untuk mendukung kesehatan serta aktivitas sehari-hari.