Telkom Indonesia melihat pertumbuhan pusat data di Indonesia sebagai salah satu tanda meningkatnya kebutuhan komputasi dan konektivitas berkapasitas besar. Perkembangan tersebut terutama dipengaruhi oleh semakin luasnya penggunaan teknologi AI dan layanan digital.
Director of Wholesale & International Service Telkom Indonesia, Budi Satria Dharma Purba, mengatakan kebutuhan konektivitas untuk mendukung aktivitas komputasi AI mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Kebutuhan tersebut bahkan disebut dapat mencapai lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Menurut Budi, perkembangan pusat data yang berkaitan dengan kebutuhan AI saat ini terlihat cukup pesat di Indonesia. Dua wilayah yang menjadi lokasi utama perkembangan tersebut adalah Jakarta dan Batam.
Jakarta menjadi salah satu kawasan yang mengalami pertumbuhan pembangunan data center secara signifikan. Sementara itu, Batam juga mulai berkembang sebagai lokasi strategis karena memiliki posisi geografis dan konektivitas yang mendukung kebutuhan pusat data.
Ketersediaan konektivitas menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan data center. Pusat data dengan kapasitas komputasi tinggi membutuhkan jaringan yang mampu menghubungkan berbagai sistem secara cepat dan stabil, termasuk koneksi ke jaringan internasional.
Namun, meningkatnya kebutuhan tersebut juga menjadi tantangan bagi penyedia infrastruktur. Pembangunan jaringan telekomunikasi, terutama kabel laut, membutuhkan waktu yang cukup panjang sehingga kapasitas yang tersedia harus dipersiapkan sejak jauh hari.
Budi mencontohkan pembangunan sistem kabel laut Bifrost yang menghubungkan Singapura dengan Amerika Serikat. Proyek kabel tersebut membutuhkan waktu sekitar lima tahun untuk dibangun, tetapi kapasitasnya dilaporkan telah terserap kurang dari satu tahun setelah selesai.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan kebutuhan digital berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan pembangunan sebagian infrastruktur pendukungnya. Karena itu, penyedia infrastruktur perlu melakukan perencanaan investasi secara matang agar kapasitas jaringan dapat mengikuti perkembangan teknologi AI.
Untuk menghadapi kondisi tersebut, Telkom mengarahkan belanja modal atau capital expenditure (capex) untuk memperkuat berbagai infrastruktur digital. Investasi tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan dalam menghadapi peningkatan kebutuhan konektivitas dan komputasi.
Direktur Utama Telkom Indonesia, Dian Siswarini, menjelaskan bahwa rasio capex Telkom berada pada kisaran 18 hingga 20 persen terhadap pendapatan perusahaan. Besaran investasi tersebut ditentukan dengan mempertimbangkan potensi pendapatan serta waktu yang diperlukan untuk memperoleh kembali investasi.
Dana investasi tersebut tidak hanya digunakan untuk membangun data center. Telkom juga mengalokasikan capex untuk pengembangan jaringan seluler, jaringan fiber domestik, serta konektivitas fiber internasional yang menggunakan sistem kabel laut.
Selain jaringan, investasi juga diarahkan pada kebutuhan power atau pasokan energi serta pembangunan data center. Infrastruktur tersebut perlu dikembangkan secara bersamaan karena pusat data membutuhkan kapasitas listrik dan jaringan yang memadai agar dapat beroperasi secara optimal.
Telkom menilai penguatan infrastruktur digital merupakan bagian penting dari transformasi perusahaan. Jika Indonesia ingin berkembang sebagai salah satu pusat pertumbuhan data center untuk mendukung teknologi AI, pembangunan fasilitas komputasi harus diiringi dengan ketersediaan konektivitas global yang kuat dan memadai.