Oleh : Dr.
Arie Setya Putra, S.Kom.,M.T.I ( Ketua DPW Muda Bergerak Lampung)
beritaterkini-indonesia.com -- Dahulu, politik adalah tentang orasi di podium dan debat di televisi. Kini, medan tempur politik telah berpindah ke algoritma dan server data. Kecerdasan Buatan (AI) telah merevolusi cara kampanye dijalankan, kebijakan dibuat, hingga bagaimana pemilih dimanipulasi.
1. Personalisasi Kampanye dan
Micro-targeting
AI memungkinkan tim sukses untuk melakukan micro-targeting
dengan tingkat presisi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan
menganalisis data besar (Big Data), AI dapat
memetakan kecemasan, harapan, dan preferensi setiap individu pemilih.
·
Pesan Khusus: Alih-alih satu pidato untuk semua,
AI bisa membuat ribuan variasi iklan yang disesuaikan untuk kelompok kecil
masyarakat.
·
Efisiensi Logistik: Algoritma
prediktif membantu kandidat menentukan wilayah mana yang paling krusial untuk
dikunjungi guna mendulang suara maksimal.
2. Ancaman Disinformasi dan Deepfakes
Sisi gelap dari integrasi AI dalam politik adalah kemampuannya untuk
menciptakan realitas palsu yang sangat meyakinkan.
·
Deepfakes: Video atau audio yang dihasilkan AI
dapat membuat kandidat politik seolah-olah mengatakan sesuatu yang tidak pernah
mereka ucapkan. Ini berpotensi menghancurkan reputasi dalam hitungan jam
sebelum pemungutan suara.
·
Bot Otonom: Pasukan akun media sosial yang
digerakkan AI dapat membanjiri narasi publik, menciptakan kesan seolah-olah ada
dukungan massal (astroturfing) terhadap kebijakan tertentu.
3. AI dalam Pembuatan Kebijakan
(Data-Driven Policy)
Di sisi positif, pemerintah mulai menggunakan AI untuk mengelola negara
dengan lebih efisien. AI membantu dalam:
·
Simulasi Dampak: Memprediksi dampak ekonomi atau
sosial dari sebuah undang-undang sebelum disahkan menggunakan model simulasi
yang kompleks.
·
Deteksi Korupsi: Algoritma dapat memantau aliran dana
publik dan mendeteksi anomali yang mengarah pada praktik gratifikasi atau
korupsi.
4. Tantangan Etika dan Kedaulatan
Digital
Muncul pertanyaan besar: Siapa yang sebenarnya memegang
kendali? Jika keputusan politik diambil berdasarkan rekomendasi
algoritma yang "kotak hitam" (sulit dipahami proses berpikirnya),
maka transparansi demokrasi terancam.
"Risiko terbesar AI dalam politik bukanlah robot yang mengambil
alih dunia, melainkan algoritma yang memperkuat bias manusia dan mengikis
kepercayaan kita pada kebenaran."
Perbandingan: Politik Tradisional vs
Politik Berbasis AI
|
Aspek |
Politik
Tradisional |
Politik Berbasis
AI |
|
Komunikasi |
Pesan massal
melalui TV/Radio |
Pesan personal
via Media Sosial |
|
Data |
Survei/Poling
manual |
Analisis Big Data
real-time |
|
Kecepatan |
Respons harian |
Respons dalam
hitungan detik |
|
Verifikasi |
Rekaman
fisik/saksi |
Sulit dibedakan
(Deepfakes) |
Kesimpulan
