Ulinnuha yang merupakan penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS mengikuti kompetisi tersebut pada kategori Business Plan. Ia memperkenalkan Keta-Briq, produk briket biochar yang dibuat dengan memanfaatkan limbah buah ketapang sebagai bahan utamanya.
Keta-Briq tidak hanya dirancang sebagai produk yang ramah lingkungan. Inovasi tersebut juga dipadukan dengan aroma daun kemangi yang memiliki fungsi sebagai pengusir serangga alami, sehingga produk yang dihasilkan memiliki manfaat tambahan bagi penggunanya.
Gagasan tersebut menunjukkan bahwa limbah yang selama ini kurang dimanfaatkan ternyata dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Pemanfaatan limbah buah ketapang juga menjadi salah satu bentuk inovasi yang mendukung penggunaan sumber daya secara lebih berkelanjutan.
Kompetisi INDES 2026 diselenggarakan oleh Universiti Teknologi MARA (UiTM) Cawangan Perak, Malaysia. Ajang tersebut menjadi tempat bagi para peserta untuk memperkenalkan berbagai gagasan dan inovasi di tingkat internasional.
Pimpinan Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan BAZNAS RI, Idy Muzayyad, mengapresiasi pencapaian yang diraih Ulinnuha. Menurutnya, prestasi tersebut membuktikan bahwa mahasiswa penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS mampu bersaing dengan peserta lain di tingkat global.
Idy juga menilai inovasi Keta-Briq sejalan dengan upaya mendorong generasi muda agar menghasilkan gagasan yang kreatif sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Menurutnya, pemanfaatan limbah lokal menjadi produk energi alternatif menunjukkan adanya peluang besar dalam pengembangan ekonomi berkelanjutan.
Di balik keberhasilannya, perjalanan Ulinnuha dalam mengikuti kompetisi tidak selalu berjalan mudah. Ia mengaku sempat mengalami masa sulit dan kehilangan motivasi ketika menjalani proses pengembangan inovasi serta persiapan perlombaan.
Dukungan keluarga menjadi salah satu faktor yang membantu Ulinnuha kembali membangun semangat hingga mampu menyelesaikan seluruh proses kompetisi. Pengalaman tersebut kemudian menjadi pelajaran baginya untuk tidak takut mencoba dan berani mengambil langkah pertama dalam mewujudkan sebuah gagasan.
Setelah meraih prestasi di Malaysia, mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan UII tersebut berkomitmen untuk terus mengembangkan berbagai inovasi yang memiliki dampak lebih luas. Pencapaian Keta-Briq menjadi contoh bahwa ide sederhana berbasis potensi lokal dapat berkembang menjadi inovasi yang mampu bersaing di tingkat internasional sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.