JAKARTA - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat menimbulkan dampak serius bagi kesehatan, terutama pada anak-anak yang sistem pernapasan dan daya tahan tubuhnya masih berkembang. Paparan asap dalam jumlah tinggi berisiko mengganggu fungsi paru-paru serta memicu berbagai keluhan pernapasan, terlebih jika anak berada di lingkungan dengan kualitas udara yang buruk dalam waktu lama.
Partikel halus yang terkandung dalam asap karhutla dapat masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut mencapai bagian dalam paru-paru dan menimbulkan iritasi maupun peradangan. Anak-anak menjadi kelompok yang rentan karena organ pernapasannya belum berkembang secara sempurna dan mereka cenderung menghirup udara lebih banyak dibandingkan ukuran tubuhnya.
Paparan asap karhutla juga dapat memicu batuk, iritasi mata, tenggorokan terasa perih, hingga sesak napas. Pada anak yang memiliki asma atau gangguan pernapasan sebelumnya, kondisi ini berpotensi memperburuk gejala. Jika paparan terjadi berulang kali atau berlangsung lama, risiko gangguan kesehatan pernapasan juga perlu diwaspadai.
Untuk mengurangi risiko, orang tua disarankan membatasi aktivitas anak di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menutup jendela saat asap masuk ke lingkungan permukiman, serta menggunakan pembersih udara jika tersedia. Anak juga perlu dijauhkan dari sumber asap dan dipantau apabila mengalami batuk berkepanjangan atau kesulitan bernapas. Jika muncul sesak napas atau keluhan yang memburuk, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
