Kemunculan konten yang menggunakan teknologi AI perlu mendapat perhatian karena tidak semua informasi yang disampaikan dapat dipastikan kebenarannya. Masyarakat bisa saja menganggap informasi tersebut sebagai nasihat medis meskipun sumber dan dasar ilmiahnya tidak jelas.
Kelompok lanjut usia atau lansia menjadi salah satu kelompok yang dinilai rentan terhadap informasi kesehatan yang menyesatkan. Kondisi tersebut dapat terjadi karena sebagian lansia lebih mudah mempercayai informasi yang disampaikan secara meyakinkan melalui video.
Konten kesehatan yang dibuat menggunakan AI juga dapat terlihat seolah-olah disampaikan oleh seorang dokter atau tenaga kesehatan. Tampilan tersebut berpotensi membuat penonton menganggap informasi yang diberikan memiliki dasar medis yang kuat.
Salah satu persoalan yang perlu diwaspadai adalah munculnya klaim kesembuhan secara instan. Konten semacam ini biasanya menawarkan solusi cepat terhadap berbagai penyakit tanpa menjelaskan proses pengobatan, risiko, maupun bukti ilmiah yang mendukungnya.
Janji untuk sembuh dalam waktu singkat dapat membuat seseorang mengambil keputusan kesehatan secara terburu-buru. Terlebih jika orang tersebut sedang mengalami masalah kesehatan dan berharap menemukan pengobatan yang mudah serta cepat.
Penggunaan AI dalam pembuatan konten juga memungkinkan informasi diproduksi dalam jumlah besar. Hal tersebut membuat masyarakat semakin sulit membedakan antara informasi kesehatan yang benar dengan konten yang dibuat hanya untuk menarik perhatian.
Video dengan judul sensasional atau klaim yang berlebihan berpotensi memperoleh banyak penonton. Semakin banyak orang yang melihat dan membagikan konten tersebut, semakin luas pula informasi yang belum tentu benar dapat tersebar.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri di tengah meningkatnya penggunaan media sosial sebagai sumber informasi kesehatan. Masyarakat perlu memahami bahwa informasi yang muncul di internet tidak otomatis memiliki tingkat keakuratan yang sama dengan konsultasi langsung kepada tenaga medis.
Pengguna media sosial sebaiknya tidak langsung mempercayai informasi kesehatan hanya karena video tersebut menampilkan sosok yang terlihat seperti dokter. Identitas, latar belakang, sumber informasi, serta bukti ilmiah yang digunakan tetap perlu diperiksa.
Klaim mengenai penyakit dan pengobatan juga perlu dibandingkan dengan informasi dari sumber yang kredibel. Informasi dari institusi kesehatan, jurnal ilmiah, atau tenaga medis yang dapat diverifikasi dapat menjadi rujukan yang lebih aman.
Khusus bagi lansia, keluarga juga memiliki peran penting dalam membantu menyaring informasi yang mereka dapatkan dari media sosial. Pendampingan tersebut dapat mencegah seseorang mengambil keputusan pengobatan hanya berdasarkan video yang ditonton di internet.
Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap konten yang meminta penonton membeli produk tertentu dengan menjanjikan kesembuhan cepat. Klaim seperti itu perlu diperiksa secara kritis karena belum tentu didukung penelitian atau bukti medis yang memadai.
Kehadiran AI sebenarnya dapat memberikan manfaat besar dalam bidang kesehatan apabila digunakan secara tepat. Teknologi tersebut dapat membantu penyebaran edukasi dan informasi, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan pengawasan serta verifikasi dari sumber yang kompeten.
Pada akhirnya, masyarakat perlu meningkatkan literasi digital dan literasi kesehatan agar tidak mudah terpengaruh oleh konten kesehatan yang dibuat menggunakan AI. Informasi dari YouTube dan TikTok sebaiknya dijadikan sebagai pengetahuan awal, bukan pengganti diagnosis maupun konsultasi dengan dokter. Terlebih bagi lansia, kehati-hatian sangat diperlukan agar klaim kesembuhan instan tidak berujung pada keputusan kesehatan yang merugikan.