Bali - Kebiasaan mengonsumsi minuman manis sejak usia anak-anak perlu mendapat perhatian lebih dari orang tua. Sebuah penelitian jangka panjang yang berlangsung selama sekitar 25 tahun menunjukkan adanya kaitan antara kebiasaan mengonsumsi minuman berpemanis dengan risiko kesehatan, termasuk tekanan darah yang lebih tinggi ketika anak tumbuh dewasa.
Minuman manis memang banyak digemari karena rasanya yang mudah diterima, terutama oleh anak-anak. Berbagai jenis minuman kemasan, minuman bersoda, teh dengan tambahan gula, hingga minuman siap saji dapat dengan mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa disadari, konsumsi produk tersebut dapat membuat asupan gula harian menjadi berlebihan.
Temuan penelitian jangka panjang tersebut menjadi perhatian karena kebiasaan makan dan minum yang terbentuk sejak kecil dapat terbawa hingga usia dewasa. Pola konsumsi yang terus berlangsung dalam waktu lama berpotensi memberikan dampak terhadap kondisi metabolisme dan kesehatan jantung serta pembuluh darah.
Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah hipertensi atau tekanan darah tinggi. Selama ini hipertensi sering dianggap sebagai masalah kesehatan yang lebih banyak dialami orang dewasa. Padahal, faktor risikonya dapat mulai terbentuk sejak usia lebih muda melalui pola makan, berat badan, aktivitas fisik, dan berbagai kebiasaan sehari-hari.
Konsumsi gula berlebihan juga dapat berkontribusi terhadap peningkatan berat badan. Ketika minuman manis dikonsumsi terlalu sering, asupan kalori tubuh dapat bertambah tanpa memberikan rasa kenyang yang cukup. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan atau obesitas, yang merupakan salah satu faktor yang berkaitan dengan hipertensi.
Sejumlah penelitian lain juga menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi makanan atau minuman tinggi gula dengan berbagai faktor risiko kardiometabolik. Pada anak-anak, pola konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi misalnya dikaitkan dengan indeks massa tubuh dan tekanan darah sistolik yang lebih tinggi.
Karena itu, orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan konsumsi anak. Anak sebaiknya tidak terlalu sering diberikan minuman yang mengandung gula tambahan. Kebiasaan sederhana seperti memilih air putih sebagai minuman utama dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi asupan gula dari minuman sehari-hari.
Selain membatasi minuman manis, pola makan anak secara keseluruhan juga perlu diperhatikan. Konsumsi buah, sayuran, sumber protein, dan makanan dengan kandungan gizi seimbang dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi selama masa pertumbuhan. Pola makan yang baik sebaiknya juga dibarengi dengan aktivitas fisik yang cukup.
Aktivitas fisik menjadi faktor penting karena kebiasaan kurang bergerak dapat meningkatkan risiko obesitas dan berbagai masalah kesehatan, termasuk hipertensi. Oleh sebab itu, anak perlu dibiasakan aktif bergerak dan tidak menghabiskan sebagian besar waktunya dalam aktivitas yang minim gerakan.
Temuan penelitian tersebut pada akhirnya menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan tidak harus menunggu seseorang memasuki usia dewasa. Kebiasaan sehat sebaiknya mulai dibangun sejak anak-anak, termasuk dengan membatasi konsumsi minuman berpemanis, memperbanyak air putih, menjaga pola makan seimbang, serta rutin melakukan aktivitas fisik. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu menurunkan risiko berbagai masalah kesehatan di kemudian hari.