Kejuaraan tersebut berlangsung di Tennis Indoor GBK, Jakarta, pada 1-5 Agustus 2026. Ajang ini berstatus World Taekwondo (WT) G2 dan diikuti oleh 531 atlet yang berasal dari 36 negara.
Raihan lima medali emas membuat Indonesia berada di posisi teratas klasemen perolehan medali. Indonesia berhasil mengungguli Filipina yang menempati posisi kedua dengan empat emas, dua perak, dan delapan perunggu. Sementara itu, Australia berada di peringkat ketiga dengan empat emas, satu perak, dan tiga perunggu.
Prestasi tersebut tidak hanya menunjukkan keberhasilan atlet Indonesia di arena pertandingan, tetapi juga menjadi catatan positif bagi penyelenggaraan kompetisi internasional di Tanah Air. Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah kejuaraan taekwondo internasional setelah hampir dua dekade.
Sebanyak 28 atlet Indonesia tercatat berhasil menyumbangkan medali dalam kejuaraan tersebut. Pencapaian itu menjadi hasil dari persiapan dan pembinaan atlet yang dilakukan secara berkelanjutan oleh Pengurus Besar Taekwondo Indonesia (PBTI).
PBTI menilai kompetisi ini memiliki arti penting bagi perkembangan taekwondo nasional. Selain menjadi ajang untuk mengejar prestasi, kejuaraan tersebut memberikan kesempatan kepada atlet Indonesia untuk mendapatkan pengalaman bertanding menghadapi peserta dari berbagai negara.
Kejuaraan ini juga menjadi bagian dari upaya membangun fondasi prestasi taekwondo Indonesia untuk masa depan. Para atlet mendapatkan pengalaman dan jam terbang internasional yang dapat membantu mereka menghadapi kompetisi dengan tingkat persaingan yang lebih tinggi.
Pihak PBTI menekankan bahwa prestasi besar tidak dapat dicapai secara instan. Keberhasilan tersebut membutuhkan sistem pembinaan yang terstruktur, dukungan yang berkelanjutan, serta konsistensi dalam mengembangkan kemampuan para atlet.
Selain mengejar prestasi, penyelenggaraan Asian Taekwondo Indonesia Open juga menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas Indonesia sebagai tuan rumah kompetisi olahraga internasional. Kehadiran ratusan atlet dari puluhan negara menunjukkan bahwa ajang tersebut memiliki cakupan yang cukup luas.
Dengan raihan lima emas, empat perak, dan 17 perunggu, Indonesia akhirnya menutup kejuaraan dengan status juara umum. Hasil tersebut menjadi modal positif bagi perkembangan taekwondo Indonesia sekaligus memberikan motivasi bagi para atlet untuk terus meningkatkan prestasi di tingkat internasional.