Teknologi yang dikembangkan tersebut dikenal dengan nama PV-Wind Turbin. Sistem ini menggabungkan energi yang berasal dari sinar matahari dengan tenaga angin untuk menghasilkan listrik secara lebih optimal.
Pengembangan teknologi tersebut juga ditujukan untuk membantu mengatasi keterbatasan akses listrik, terutama di wilayah yang sulit memperoleh pasokan energi. Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk mengembangkan energi terbarukan karena mendapatkan paparan sinar matahari dan memiliki sumber angin yang tersedia sepanjang tahun.
Menurut Imam, kombinasi tenaga surya dan angin dipilih karena kedua sumber energi tersebut dapat saling melengkapi. Ketika salah satu sumber energi mengalami penurunan, sumber energi lainnya dapat membantu menjaga proses pembangkitan listrik.
Cara kerja sistem tersebut dibagi berdasarkan kondisi waktu dan sumber energi yang tersedia. Pada siang hari, panel surya berfungsi menangkap energi matahari dan mengubahnya menjadi energi listrik.
Sementara itu, ketika malam hari, turbin angin mengambil peran dalam menghasilkan energi. Turbin yang digunakan memiliki desain berbentuk spiral dengan jenis Helix Savonius, yang mampu berputar meskipun hanya mendapatkan hembusan angin dengan kecepatan rendah.
Salah satu keunggulan dari pembangkit hybrid ini terletak pada sistem solar tracker. Teknologi tersebut memungkinkan panel surya bergerak secara otomatis mengikuti posisi matahari sehingga panel dapat memperoleh paparan sinar secara lebih maksimal.
Pergerakan panel dilakukan secara otomatis dan menyesuaikan arah pergerakan matahari. Dengan mekanisme tersebut, proses penyerapan energi matahari dapat berlangsung secara lebih optimal dibandingkan panel yang berada dalam posisi tetap.
Sistem pembangkit ini juga memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan kondisi cuaca. Ketika langit berubah menjadi mendung atau tertutup awan tebal, sistem dapat mengubah metode pendeteksian posisi matahari secara otomatis.
Dalam kondisi cuaca yang tidak menentu, sistem menggunakan perhitungan astronomi sebagai alternatif untuk menentukan posisi matahari. Mekanisme tersebut memungkinkan panel tetap diarahkan ke posisi yang dianggap paling sesuai untuk memperoleh energi.
Pemanfaatan sistem kendali cerdas tersebut membuat teknologi PV-Wind Turbin tidak hanya bergantung pada sensor kondisi cuaca. Sistem dapat melakukan penyesuaian secara otomatis sehingga pengoperasian panel surya tetap berjalan meskipun terjadi perubahan cuaca.
Hasil pengujian di lapangan menunjukkan adanya peningkatan efisiensi yang cukup signifikan. Sistem pembangkit hybrid tersebut dilaporkan mampu meningkatkan efisiensi listrik hingga 25,12 persen jika dibandingkan dengan penggunaan panel surya konvensional.
Inovasi tersebut juga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang tinggal di wilayah dengan akses listrik terbatas. Pemanfaatan energi matahari dan angin memungkinkan masyarakat memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di sekitar mereka sebagai sumber energi alternatif.
Ke depan, Prof. Imam berharap teknologi tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi stasiun pengisian daya mandiri yang dapat digunakan masyarakat secara gratis. Pengembangan tersebut diharapkan membuat hasil penelitian tidak hanya berhenti sebagai inovasi akademik, tetapi dapat diterapkan secara langsung.
Pengembangan pembangkit listrik hybrid dari ITS menunjukkan bahwa pemanfaatan energi terbarukan dapat dilakukan dengan menggabungkan beberapa sumber energi sekaligus. Dengan dukungan sistem kendali cerdas, teknologi ini berpotensi meningkatkan efisiensi pembangkitan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.