Data tersebut tercatat pada minggu ke-32 melalui pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kotawaringin Barat. Jumlah tersebut menjadi perhatian karena terjadi setelah adanya kecenderungan peningkatan kasus dalam beberapa minggu sebelumnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kotawaringin Barat, dr. Jhonferi Sidabalok, mengatakan perkembangan kasus ISPA perlu terus dipantau. Berdasarkan data yang tersedia, peningkatan kasus terlihat sejak minggu ke-28 hingga minggu ke-32.
Pola kasus ISPA selama periode tersebut mengalami perubahan atau fluktuasi. Namun, peningkatan yang cukup jelas pada beberapa minggu terakhir menjadi perhatian bagi pemerintah daerah karena berlangsung bersamaan dengan kondisi karhutla dan kabut asap.
Dinas Kesehatan juga mencermati persebaran kasus berdasarkan wilayah pelayanan fasilitas kesehatan. Data tersebut diperlukan untuk mengetahui daerah mana yang memiliki laporan kasus cukup tinggi dan membantu menentukan langkah penanganan yang diperlukan.
Puskesmas Sungai Rangit menjadi wilayah dengan laporan kasus tertinggi berdasarkan data yang disampaikan Dinas Kesehatan. Fasilitas kesehatan tersebut mencatat 1.933 kasus atau sekitar 16,43 persen dari laporan yang dipantau.
Di posisi berikutnya terdapat Puskesmas Madurejo dengan 1.169 kasus atau 9,94 persen. Sementara itu, Puskesmas Kumai mencatat 1.152 kasus atau sekitar 9,79 persen berdasarkan data wilayah pelayanan kesehatan.
Selain ketiga wilayah tersebut, Puskesmas Karang Mulya juga mencatat 914 kasus. Puskesmas Mendawai menyusul dengan 905 kasus yang tercatat dalam laporan pemantauan kesehatan masyarakat.
Dinas Kesehatan menilai angka kasus perlu dianalisis lebih lanjut berdasarkan wilayah dan kelompok usia. Langkah tersebut penting untuk melihat pola penyebaran penyakit serta mengetahui kelompok masyarakat yang kemungkinan paling terdampak.
Peningkatan kasus ISPA menjadi perhatian karena Kotawaringin Barat juga sedang menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Asap serta partikel hasil pembakaran dapat menurunkan kualitas udara dan berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat.
Karena itu, Dinas Kesehatan menilai hubungan antara peningkatan kasus ISPA, kualitas udara, dan kejadian karhutla perlu terus diperhatikan. Pemantauan secara berkala diperlukan untuk mengetahui apakah peningkatan penyakit berkaitan dengan memburuknya kondisi lingkungan.
Untuk mencegah peningkatan kasus yang lebih besar, seluruh puskesmas diminta memperketat pemantauan ISPA setiap pekan. Jika jumlah penderita terus meningkat, pemerintah daerah dapat melakukan verifikasi lapangan dan analisis epidemiologi untuk mengetahui kondisi secara lebih mendalam.
Kesiapan fasilitas kesehatan juga menjadi bagian penting dalam menghadapi dampak kabut asap. Dinas Kesehatan meminta fasilitas pelayanan kesehatan memastikan ketersediaan obat, bahan medis habis pakai, serta oksigen untuk menghadapi kemungkinan bertambahnya pasien.
Selain itu, pos kesehatan dapat dipersiapkan apabila kondisi kabut asap semakin memburuk. Langkah tersebut ditujukan agar masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap dapat memperoleh pelayanan dengan lebih cepat.
Perlindungan khusus juga perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti balita, anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita penyakit pernapasan atau penyakit kronis, serta petugas yang harus bekerja di tengah paparan asap. Dengan pemantauan kesehatan yang lebih ketat dan penanganan karhutla yang terus dilakukan, dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat di Kotawaringin Barat diharapkan dapat ditekan.