Penerapan teknologi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam The 6th Siloam Urology Nephrology Summit 2026. Forum tersebut mempertemukan para ahli di bidang urologi dan nefrologi untuk membahas perkembangan layanan penyakit ginjal, termasuk transplantasi, diagnosis presisi, serta penggunaan teknologi robotik dalam pembedahan.
Siloam Hospitals Asri menjadi salah satu fasilitas kesehatan di Indonesia yang mengembangkan layanan transplantasi ginjal dengan bantuan sistem bedah robotik. Teknologi ini menggunakan lengan mekanik yang dikendalikan oleh dokter untuk melakukan prosedur secara lebih presisi.
Dalam operasi robotik, dokter tetap menjadi pihak yang mengendalikan seluruh tindakan. Robot tidak melakukan operasi secara mandiri, melainkan menerjemahkan gerakan tangan dokter melalui sistem mekanik dan digital yang terhubung dengan instrumen bedah.
Salah satu keunggulan teknologi ini adalah kemampuan memberikan tampilan area operasi dengan pembesaran yang sangat detail. Visualisasi tersebut membantu dokter melihat struktur tubuh berukuran kecil dengan lebih jelas, terutama ketika melakukan tindakan yang membutuhkan ketelitian tinggi seperti penyambungan pembuluh darah.
Penggunaan robotik juga memungkinkan prosedur dilakukan melalui beberapa sayatan berukuran kecil. Dibandingkan operasi terbuka yang membutuhkan luka lebih panjang, pendekatan minimal invasif dapat membantu mengurangi trauma pada jaringan tubuh pasien.
Sayatan yang lebih kecil berpotensi memberikan sejumlah keuntungan bagi pasien. Proses pemulihan dapat berlangsung lebih baik, rasa sakit setelah operasi dapat berkurang, dan masa perawatan di rumah sakit berpotensi menjadi lebih singkat.
Perkembangan teknik transplantasi ginjal sendiri telah melalui beberapa tahap. Prosedur yang sebelumnya banyak dilakukan melalui operasi terbuka kemudian berkembang menuju teknik laparoskopi dan selanjutnya menggunakan bantuan robotik untuk meningkatkan ketelitian tindakan.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan di Indonesia adalah Robotic Assisted Living Donor Nephrectomy atau RALDN. Metode ini digunakan untuk mengambil ginjal dari pendonor hidup dengan bantuan sistem robotik, termasuk melalui pendekatan retroperitoneal dari area pinggang sehingga tidak perlu melewati rongga abdomen.
Pendekatan retroperitoneal tersebut menjadi salah satu perkembangan menarik dalam bedah robotik di Indonesia. Teknik ini memberikan alternatif bagi dokter dalam melakukan pengambilan ginjal dari pendonor yang pada dasarnya merupakan orang sehat dan perlu mendapatkan perhatian khusus terhadap keselamatan serta proses pemulihannya.
Meskipun teknologi robotik menawarkan berbagai keunggulan, penerapannya tetap membutuhkan dokter dengan pengalaman dan kemampuan khusus. Dokter perlu memahami teknik operasi konvensional terlebih dahulu sebelum beralih menggunakan sistem robotik karena keputusan klinis tetap berada di tangan tenaga medis.
Proses pembelajaran untuk menggunakan teknologi robotik juga tidak berlangsung secara singkat. Dokter perlu menjalani pelatihan melalui simulator, melakukan observasi, mengikuti simulasi pembedahan, serta mendapatkan pendampingan dari tenaga ahli sebelum mampu menggunakan sistem tersebut secara mandiri.
Salah satu tantangan dalam operasi robotik adalah berkurangnya sensasi sentuhan secara langsung. Dokter tidak memegang instrumen bedah dengan tangannya seperti pada operasi konvensional, sehingga harus mengandalkan visualisasi yang ditampilkan oleh sistem dan pengalaman dalam membaca kondisi jaringan.
Selain dokter yang mengendalikan robot, keberhasilan operasi juga bergantung pada kerja sama seluruh tim medis. Asisten yang berada di dekat pasien tetap diperlukan untuk membantu pergantian instrumen, mengawasi kondisi pasien, serta memastikan prosedur berjalan sesuai rencana.
Pada akhirnya, teknologi robotik dipandang sebagai alat bantu untuk meningkatkan kemampuan dokter dalam melakukan operasi, bukan sebagai pengganti tenaga medis. Dengan kombinasi antara keahlian dokter, koordinasi tim, dan teknologi yang semakin berkembang, transplantasi ginjal diharapkan dapat dilakukan dengan tingkat presisi yang lebih tinggi, trauma yang lebih rendah, serta memberikan kualitas pemulihan yang lebih baik bagi pasien.