Bali - Presiden Iran Masoud Pezeshkian membantah kabar yang menyebut dirinya berencana mengundurkan diri dari jabatan presiden. Bantahan tersebut disampaikan setelah muncul pemberitaan dari sejumlah media oposisi Iran yang mengklaim bahwa Pezeshkian telah beberapa kali mengajukan keinginan untuk mundur kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Pezeshkian menyampaikan penegasan tersebut dalam pidato yang disiarkan oleh kantor berita Iran, IRNA. Ia memastikan tidak memiliki rencana untuk meninggalkan jabatannya dan menyatakan akan tetap menjalankan tugas serta perjuangannya sebagai kepala pemerintahan Iran.
Menurut Pezeshkian, apabila dirinya memang memutuskan untuk mengundurkan diri, keputusan tersebut akan disampaikan secara terbuka kepada masyarakat. Karena itu, ia meminta agar informasi mengenai pengunduran dirinya tidak dipercaya sebelum ada pernyataan resmi dari dirinya.
Selain membantah isu pengunduran diri, Pezeshkian juga menepis kabar mengenai adanya perselisihan antara dirinya dengan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Ia menegaskan bahwa hubungan kerja antara pemerintah dan kepemimpinan tertinggi Iran tetap berjalan.
Pezeshkian juga membantah adanya ketegangan dengan angkatan bersenjata Iran. Menurutnya, berbagai pihak di dalam pemerintahan dan militer tetap bekerja sama dalam menghadapi situasi yang sedang berkembang.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Iran masih menghadapi situasi geopolitik dan militer yang penuh tekanan. Sebelumnya, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada Februari. Iran kemudian merespons dengan serangan menggunakan rudal dan drone ke sejumlah negara Teluk yang memiliki aset militer Amerika Serikat.
Konflik tersebut sempat memasuki tahap perundingan setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata pada April. Kesepakatan tersebut kemudian dilanjutkan dengan memorandum perdamaian yang dicapai melalui mediasi Pakistan pada Juni sebagai upaya menghentikan konflik dan membuka jalan menuju perdamaian.
Namun, upaya tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Kesepakatan perdamaian akhirnya mengalami kegagalan setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat dalam serangkaian serangan selama hampir dua pekan pada bulan berikutnya.
Situasi tersebut membuat posisi pemerintahan Iran tetap berada dalam tekanan, baik dari sisi keamanan maupun politik. Di tengah kondisi tersebut, munculnya rumor mengenai kemungkinan pengunduran diri Pezeshkian turut menjadi perhatian publik dan memunculkan spekulasi mengenai stabilitas pemerintahan Iran.
Dengan bantahan langsung dari Pezeshkian, pemerintah Iran berusaha menegaskan bahwa dirinya masih menjalankan tugas sebagai presiden. Ia juga menyampaikan bahwa kerja sama antara pemerintah, Pemimpin Tertinggi, dan angkatan bersenjata tetap berlangsung di tengah situasi konflik dan ketegangan regional yang belum sepenuhnya mereda.