Bali - Gangguan penglihatan masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang cukup sering dialami masyarakat Indonesia. Sayangnya, sebagian orang baru memeriksakan kondisi matanya ketika gangguan penglihatan sudah mulai menghambat aktivitas sehari-hari. Padahal, pemeriksaan secara rutin dapat membantu menemukan berbagai masalah mata sejak tahap awal.
Refraksionis Optisien dari Optik99K, Naovalia Ayu Hanifah, A.Md, RO, menyebut terdapat sejumlah gangguan mata yang umum ditemukan di Indonesia. Kondisi tersebut antara lain miopia atau mata minus, hipermetropia atau mata plus, presbiopia atau mata tua, astigmatisme atau mata silinder, mata kering, katarak, glaukoma, hingga retinopati diabetik yang berkaitan dengan diabetes yang tidak terkontrol.
Salah satu gangguan yang banyak ditemukan saat ini adalah miopia atau rabun jauh. Kondisi tersebut tidak hanya dialami orang dewasa, tetapi juga semakin banyak ditemukan pada anak-anak dan remaja. Kebiasaan menghabiskan waktu cukup lama di depan layar perangkat digital menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan mata.
Sementara itu, gangguan seperti presbiopia dan katarak lebih banyak berkaitan dengan proses pertambahan usia. Presbiopia biasanya menyebabkan seseorang mulai kesulitan melihat objek dari jarak dekat, sedangkan katarak dapat membuat penglihatan menjadi berkabut atau kurang jelas. Kedua kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian, terutama pada kelompok usia lanjut.
Gangguan lain yang juga perlu diwaspadai adalah glaukoma. Penyakit ini memiliki karakteristik berbeda karena pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas. Akibatnya, seseorang bisa saja tidak menyadari adanya masalah hingga kerusakan penglihatan sudah berkembang lebih jauh. Kondisi tersebut membuat pemeriksaan mata secara berkala menjadi penting.
Menurut Naovalia, pemeriksaan mata sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika seseorang mulai merasa penglihatannya terganggu. Pemeriksaan rutin dapat membantu mengetahui perubahan fungsi penglihatan lebih awal. Dengan begitu, tindakan yang diperlukan dapat dilakukan sebelum kondisi menjadi semakin berat.
Untuk orang dewasa yang tidak memiliki keluhan tertentu, pemeriksaan mata umumnya dapat dilakukan setiap satu hingga dua tahun. Sementara pengguna kacamata atau lensa kontak disarankan melakukan pemeriksaan setidaknya setahun sekali untuk memastikan ukuran lensa masih sesuai dengan kondisi penglihatan.
Kelompok tertentu mungkin membutuhkan pemeriksaan yang lebih sering. Mereka yang memiliki diabetes, glaukoma, riwayat keluarga dengan penyakit mata, maupun orang berusia di atas 60 tahun dapat memerlukan pemantauan lebih rutin sesuai kondisi dan anjuran dokter mata. Langkah ini penting untuk mendeteksi perubahan pada mata sedini mungkin.
Selain melakukan pemeriksaan, menjaga kesehatan mata juga dapat dilakukan melalui kebiasaan sehari-hari. Pola makan bergizi dengan asupan vitamin dan nutrisi yang mendukung kesehatan mata, olahraga secara teratur, mengendalikan diabetes serta tekanan darah, dan tidak merokok menjadi beberapa langkah yang dapat diterapkan. Penggunaan pelindung mata ketika bekerja atau berolahraga juga penting untuk mengurangi risiko cedera.
Masyarakat juga dianjurkan menggunakan kacamata yang memiliki perlindungan terhadap sinar ultraviolet, menjaga kebersihan tangan, serta menghindari kebiasaan mengucek mata. Waktu tidur yang cukup juga menjadi bagian dari kebiasaan yang mendukung kesehatan secara keseluruhan. Dengan pemeriksaan berkala dan pola hidup yang lebih sehat, berbagai gangguan mata diharapkan dapat diketahui dan ditangani lebih cepat.