Festival ini tidak hanya menjadi ajang adu kecepatan di atas air, tetapi juga mulai berkembang sebagai salah satu potensi sport tourism di Lamongan. Ramainya pengunjung turut memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar, khususnya pelaku UMKM yang menjual makanan, minuman, serta berbagai produk kerajinan.
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Festival Dayung Tejoasri. Menurutnya, antusiasme masyarakat semakin tinggi dari tahun ke tahun dan kualitas penyelenggaraan maupun pertandingan juga terus mengalami peningkatan.
Festival tersebut dinilai memiliki nilai lebih karena tidak hanya mempertahankan olahraga tradisional, tetapi juga membantu memperkenalkan potensi wisata Bengawan Mati. Dengan demikian, kegiatan olahraga dapat berjalan beriringan dengan pengembangan pariwisata daerah.
Kepala Desa Tejoasri, Yusuf Bachtiar, berharap festival ini dapat berkembang lebih jauh dan menjadi agenda tahunan berskala Provinsi Jawa Timur. Pemerintah Desa Tejoasri menyatakan siap mendukung apabila kegiatan tersebut nantinya mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Harapan tersebut mendapat tanggapan positif dari Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Timur, Muhammad Hadi Wawan Guntoro. Ia menilai upaya pemerintah desa dan Pemkab Lamongan dalam mengemas olahraga tradisional menjadi tontonan menarik patut diapresiasi.
Menurut Hadi Wawan, Festival Dayung Tejoasri memiliki peluang untuk terus dikembangkan. Namun, penyelenggaraan ke depan perlu memiliki tata kelola yang lebih baik, termasuk dalam hal sponsor dan standar pelaksanaan agar festival dapat memberikan kontribusi terhadap pembinaan prestasi olahraga.
Pada pertandingan final, tim Desa Jumputrejo dari Kabupaten Sidoarjo berhasil keluar sebagai juara. Mereka mengalahkan tim Desa Pupus dari Kecamatan Blawi, Kabupaten Lamongan, dalam persaingan di babak penentuan.
Keberadaan Festival Dayung Tejoasri juga menjadi sarana untuk memperkenalkan Bengawan Mati sebagai destinasi wisata. Kehadiran ribuan penonton memberikan peluang bagi sektor UMKM dan usaha pariwisata masyarakat untuk memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan tersebut.
Dengan semakin besarnya antusiasme peserta dan masyarakat, Festival Dayung Tejoasri diharapkan dapat terus berkembang. Selain menjaga keberadaan olahraga tradisional, festival ini berpotensi menjadi kegiatan olahraga dan wisata yang mampu mengangkat nama Lamongan di tingkat yang lebih luas.
Kesimpulannya, Festival Dayung Tejoasri ke-4 diikuti 32 tim dari berbagai daerah Jawa Timur dan berhasil menarik ribuan penonton. Selain menjadi kompetisi olahraga tradisional, kegiatan ini juga berkembang sebagai sport tourism yang memberikan dampak positif bagi pariwisata dan UMKM masyarakat Lamongan.